Minyak Sawit Indonesia Diancam Referendum, KBRI Swiss Bertindak

Liputan6.com, Bern - Organisasi lingkungan dari Swiss sedang berusaha melakukan referendum untuk menolak minyak sawit Indonesia. Mereka ingin agar minyak sawit dikeluarkan dari perjanjian perdagangan bebas dengan Swiss. 

Perjanjian yang dipermasalahkan adalah Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA). Uniterre ingin agar minyak sawit tidak disertakan di perjanjian itu karena merusak lingkungan. 

Petisi 'Stop Minyak Sawit' dari Uniterre berhasil mengumpulkan hingga 59 ribu tanda tangan. Alhasil, referendum melawan minyak sawit itu kemungkinan terlaksana akhir tahun ini. 

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern sudah turun tangan untuk memastikan minyak sawit mendapatkan dukungan pemerintah dan komunitas bisnis di Swedia. KBRI juga membantah tudingan bahwa sawit merusak lingkungan.

Berikut wawancara eksklusif Liputan6.com dengan Minister Counsellor for Economic Affairs di KBRI Bern, Nuradi Noeri: 

Sejauh ini apa saja upaya KBRI Swiss dalam menghadapi Referendum Sawit?  

Referendum adalah bagian proses demokrasi di Swiss, banyak hal yang diputuskan melalui referendum. Setelah Indonesia EFTA CEPA ditanda tangai bulan Desember 2018, Pemerintah mulai melakukan proses ratifikasi. Parlemen Swiss menyetujui IE CEPA bulan Desember 2019 dan tahap selanjutnya kalau di negara lain adalah ratifikasi.

Namun di Swiss diberi kesempatan kepada rakyat untuk berpendapat mengenai apa yang telah diputuskan Pemerintah tersebut. Lalu munculah inisiatif dari seorang pengusaha anggur organik di Jenewa yang kemudian didukung oleh sejumlah kelompok petani dan LSM. Kelompok ini menggunakan isu kelapa sawit untuk menolak IE CEPA.

Pemerintah Swiss dan dunia usaha Swiss sangat ingin agar IE CEPA segera mulai berlaku untuk meningkatkan perdagangan dan investasi dengan Indonesia. KBRI beberapa kali mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Swiss dan pihak Kadin Swiss untuk memberikan lebih jelas kepada masyarakat Swiss tentang pentingnya IE CEPA. 

Komunitas Bisnis Swiss Mendukung

Presiden Joko Widodo. (Sumber: Instagram/jokowi)

Kelompok pengusaha terbesar di Swiss Economiesuisse beberapa kali membuat artikel mengenai perlunya IE CEPA bagi perekonomian Swiss dan Indonesia. Minggu lalu Duta Besar di wawancarai oleh Swiss Info, salah satu media online besar di Swiss.

Saat ini KBRI dan Kadin Geneva sedang mempersiapkan business conference dengan seluruh kelompok pengusaha Swiss untuk mendiskusikan IE CEPA.

Saat ini KBRI dan Kadin Geneva sedang mempersiapkan business conference dengan seluruh kelompok pengusaha Swiss untuk mendiskusikan IE CEPA. Saat ini pemerintah Swiss sedang melakukan proses verifikasi atas tanda tangan yang diserahkan LSM untuk referendum, kemungkinan referendum IE CEPA diadakan akhir Nopember 2020 atau Maret 2021.

Apa tanggapan KBRI mengenai tudingan ormas setempat yang berkata sawit bisa mengakibatkan pemanasan global? 

Berbagai dampak dituduhkan kepada palm oil Indonesia, yang paling banyak pembabatan hutan, penggunaan pupuk kimia, dan lain-lain. KBRI dalam beberapa acara temu usaha mengungkapkan beberapa perubahan yang berlangsung di Indonesia untuk meningkatkan kualitas produksi palm oil Indonesia untuk memenuhi standarisasi internasional.

Pemerintah Swiss Optimistis IE-CEPA Akan Berlanjut

Ilustrasi Perkebunan Sawit (iStockphoto)​

Apakah FTA akan tetap berlanjut apabila sawit tidak disertakan?

Tidak ada lagi opsi mengeluarkan sawit dari IE CEPA karena perjanjian ini sudah ditanda tangani oleh kedua belah pihak. Sekarang yang ditunggu adalah hasil referendum ini, apakah Swiss masih ikut dalam IE CEPA atau tidak.

Dua negara EFTA yaitu Norway dan Islandia telah meratifikasi IE CEPA. Liechtesntein akan mengikuti Swiss. Namun pihak Pemerintah Swiss selalu mengatakan kepada kami bahwa referendum akan dimenangkan oleh pendukung IE CEPA karena sebagian masyarakat sadar akan keuntungan IE CEPA bagi perekonomian Swiss.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: