Minyak turun di Asia karena dolar menguat, tapi bersiap naik mingguan

Harga minyak turun di awal perdagangan Asia pada Jumat, karena dolar menguat tetapi berada di jalur untuk kenaikan mingguan di tengah kekhawatiran tentang pengetatan pasokan dengan penghentian impor Eropa dari Rusia yang tertunda.

Minyak mentah berjangka Brent merosot 42 sen atau 0,4 persen, menjadi diperdagangkan di 96,54 dolar AS per barel pada pukul 00.43 GMT, setelah naik 1,3 persen di sesi sebelumnya.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS kehilangan 56 sen atau 0,6 persen, menjadi diperdagangkan pada 88,52 dolar AS per barel, memangkas sekitar setengah kenaikan pada sesi sebelumnya.

Namun, kedua kontrak acuan minyak berada di jalur untuk kenaikan mingguan, dengan Brent menuju kenaikan lebih dari 3,0 persen dan WTI lebih dari 4,0 persen.

Penurunan Jumat terjadi karena indeks dolar naik tipis menjadi 110,57, membuat minyak lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Analis mengatakan rebound kuat dalam produk domestik bruto AS pada kuartal ketiga yang dilaporkan pada Kamis (27/10) menyoroti ketahanan ekonomi dan konsumen minyak terbesar di dunia itu.

"Dari perspektif pasar minyak - meskipun suku bunga tinggi - itu adalah pendorong langsung ke prospek permintaan Anda," kata Baden Moore, kepala penelitian komoditas di National Australia Bank.

Dia mengatakan volatilitas di pasar kemungkinan akan naik, mengingat persediaan global rendah, sanksi Eropa terhadap minyak mentah Rusia akan mulai berlaku pada Desember dan permintaan China meningkat.

Premi yang melebar untuk Brent di atas WTI dipicu oleh tanda-tanda kenaikan operasi kilang di China, kelaparan Eropa akan minyak mentah menjelang embargo minyak Rusia, dan pemotongan pasokan yang tertunda oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, bersama-sama disebut OPEC+.

"Pasar tetap waspada terhadap tenggat waktu yang akan datang untuk pembelian minyak mentah Rusia di Eropa sebelum sanksi dimulai pada 5 Desember," kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan.

Baca juga: IEA: Dunia dalam "krisis energi global pertama yang sesungguhnya"