Minyak turun tipis, inflasi diperkirakan berdampak pada permintaan BBM

Harga minyak turun tipis di perdagangan Asia pada Selasa sore, memangkas beberapa keuntungan dari sesi sebelumnya karena pasar khawatir bahwa kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari bank-bank sentral dapat menyebabkan perlambatan ekonomi global dan melemahkan permintaan bahan bakar.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober merosot 56 sen atau 0,5 persen, menjadi diperdagangkan di 104,53 dolar AS per barel pada pukul 06.20 GMT, setelah melonjak 4,1 persen pada Senin (29/8/2022), kenaikan terbesar dalam lebih dari sebulan.

Kontrak Oktober minyak mentah Brent akan berakhir pada Rabu (31/8/2022) dan kontrak November yang lebih aktif berada di 102,57 dolar AS per barel, melemah 0,4 persen.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober berkurang 14 sen atau 0,1 persen, menjadi diperdagangkan pada 96,86 dolar AS per barel, menyusul kenaikan 4,2 persen di sesi sebelumnya.

Inflasi mendekati wilayah dua digit di banyak ekonomi terbesar dunia, tingkat yang tidak terlihat dalam waktu hampir setengah abad, yang dapat mendorong bank sentral di Amerika Serikat dan Eropa menggunakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

"Selera risiko telah mendingin atas antisipasi bahwa Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga ... Mundurnya harga gas alam di Eropa juga menambah ketidakpastian gambaran krisis energi," kata analis dari Haitong Futures.

Juga membebani harga, produksi minyak Rusia telah melampaui ekspektasi setelah perang di Ukraina, kepala Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada Senin (29/8/2022). Namun dia mengatakan bahwa Moskow, yang menyebut tindakannya di Ukraina sebagai "operasi militer khusus", akan semakin sulit untuk memperkuat produksi karena sanksi Barat mulai menggigit.

Negara-negara anggota IEA dapat melepaskan lebih banyak minyak dari cadangan minyak strategis (SPR) jika mereka merasa perlu ketika skema saat ini berakhir, kepala badan tersebut juga mengatakan.

Namun, kekerasan politik pada Senin (29/8/2022) malam di Irak, produsen terbesar kedua OPEC, mendukung harga.

Pasukan keamanan pemerintah dan milisi yang setia kepada ulama Syiah Moqtada al-Sadr bentrok di sekitar Zona Hijau yang menampung kantor-kantor pusat pemerintah dan kedutaan-kedutaan besar di ibu kota Baghdad, menewaskan 20 orang dalam perselisihan yang berlangsung lama mengenai pembentukan pemerintahan baru sejak pemilihan umum tahun lalu.

"Sebagai eksportir minyak utama dengan produksi lebih dari 4 juta barel per hari, situasi domestik (Irak) tidak kurang berdampak pada harga minyak daripada Iran," kata analis Haitong.

Juga menawarkan beberapa dukungan untuk harga adalah pasokan yang ketat. Arab Saudi, produsen utama di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), pekan lalu meningkatkan kemungkinan pengurangan produksi, yang menurut sumber bisa bertepatan dengan peningkatan pasokan dari Iran jika mencapai kesepakatan nuklir dengan Barat.

OPEC+, yang terdiri dari OPEC, Rusia dan produsen sekutu, akan bertemu untuk menetapkan kebijakan pada 5 September.

American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri akan merilis data persediaan minyak mentah AS pada Selasa dengan Badan Informasi Energi AS (EIA), unit statistik dari Departemen Energi AS akan menyusul pada Rabu.

Stok minyak mentah AS kemungkinan turun 600.000 barel dengan sulingan dan persediaan bensin juga diperkirakan turun, jajak pendapat awal Reuters menunjukkan pada Senin (29/8/2022).

Baca juga: Saham global terangkat "rebound" minyak, saat pasar terpukul libur AS

Baca juga: Minyak naik, kekhawatiran pasokan di seluruh dunia menjadi perhatian