Miras dan premanisme di Surabaya meningkat jelang akhir tahun

MERDEKA.COM, Jelang tutup tahun, kasus tindak pidana di Surabaya, Jawa Timur didominasi kasus minuman keras (miras) dan aksi premanisme jalanan. Hal ini terungkap dari selama berlangsungnya Operasi Cipta Kondisi Semeru 2012 selama sembilan hari.

"Kasus miras lebih banyak dari kasus-kasus yang lain. Ini membuktikan, pada perayaan malam Natal dan Tahun Baru, masyarakat lebih cenderung merayakan pesta liburan panjang dengan banyak menggelar pesta miras can cenderung mengarah pada tindak kriminal," ujar Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Farman di Mapolrestabes Surabaya, Senin (24/12).

Dari hasil razia yang dilakukan aparat kepolisian, Polrestabes Surabaya telah menangani 81 kasus dengan 101 tersangka, termasuk 52 kasus yang merupakan target operasi (TO).

"81 Kasus yang kami tangani selama sembilan hari gelar Operasi Cipta Kondisi Semeru 2012 di bulan Desember ini, termasuk 52 target operasi (TO) dari Polda Jawa Timur. Sisanya merupakan tangkapan kasus umum," lanjut Farman.

Farman menjelaskan, dari 81 kasus tersebut, kasus minuman keras lebih mendominasi, yaitu 24 kasus dengan 24 tersangka, disusul premanisme sebanyak 19 kasus dan 33 tersangka. Berikutnya secara berurutan kasus pencurian dan pemberatan (curat) sebanyak 18 kasus dengan 20 tersangka. Sisanya, kasus pencurian dan kekerasan (curas) sebanyak sembilan kasus dengan 12 tersangka, curanmor (3 kasus dan 3 tersangka) dan kasus judi (8 kasus dan 9 tersangka).

Selain menangkap para tersangka, ratusan barang bukti turut diamankan aparat, di antaranya alat-alat elektronik (kasus curat), kendaraan roda dua dan empat (curas, curat dan curanmor), uang tunai Rp 765 ribu (kasus judi), sajam dan besi (premanisme) dan 277 botol miras.

Guna menekan angka kriminal selama berlangsungnya perayaan Natal dan tahun baru, Polrestabes Surabaya berjanji akan terus melakukan razia. "Kami akan terus berupaya menekan angka kriminalitas yang terjadi di Surabaya, dengan harapan suasana Kota Surabaya akan tetap kondusif," pungkasnya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.