Mirip Aprilia Manganang, Wanita Ini Baru Tahu Terlahir Pria di Usia 25

Adinda Permatasari
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kasus Serda TNI Aprilia Manganang cukup menarik perhatian publik hingga beritanya viral. Kisah Aprlia tergolong unik dan tak biasa karena sejak lahir hingga dewasa ia merasa dilahirkan sebagai seorang perempuan. Setelah didiagnosis mengidap hipospadia, Aprilia Manganang kini menyandang gender pria dan menjalani operasi koreksi kelamin.

Ternyata, kisah yang hampir mirip juga terjadi di China, di mana seorang wanita asal China Timur yang berusia 25 tahun baru mengetahui bahwa dia terlahir sebagai laki-laki. Berbeda dari Aprilia, wanita ini sudah menikah dan ingin memiliki anak. Selama 12 bulan ia mencoba untuk bisa mengandung. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa dia sebenarnya terlahir sebagai laki-laki dan interseks.

Setelah melakukan rontgen pada pergelangan kakinya yang terluka ia langsung dilarikan ke rumah sakit di kota kelahirannya tersebut. Sebelumnya, wanita tersebut tidak pernah mempertanyakan jenis kelaminnya selama ini.

Dikutip dari laman South China Morning Post, ketika sinar-X menunjukkan bahwa tulangnya ternyata belum berkembang setelah melewati usia remaja, penyelidikan tim medis lebih lanjut menemukan fakta yang lebih mengejutkan bahwa ternyata Pingping, yang namanya sengaja ia ubah, tidak pernah menstruasi. Alasan lain ia tidak mau mengubah namanya adalah karena dia merasa sangat malu.

“Ketika saya masih muda, ibu saya membawa saya ke dokter. Dokter mengatakan saya hanya berkembang lebih lambat dari yang lain secara seksual, dan saya bisa mengalami menstruasi dalam beberapa tahun,” katanya kepada dokter setempat.

“Setelah saya dewasa, saya merasa masalah ini ternyata cukup memalukan, jadi saya tidak mau terlalu ambil pusing akan hal itu,” kata Pingping.

Meskipun jarang mengalami menstruasi, Pingping tidak punya alasan untuk mencurigai dia wanita atau bukan secara biologis karena dia memang memiliki alat kelamin wanita eksternal, kata Rumah Sakit Afiliasi Pertama dari Fakultas Kedokteran, Universitas Zhejiang.

Saat mengunjungi ahli endokrin di rumah sakit, Pingping berkata, “Saya dan suami saya telah mencoba untuk memiliki bayi selama setahun meskipun hasilnya tidak ada bahkan sia-sia. Apakah itu juga terkait dengan usia tulang saya dan tidak adanya menstruasi?”

Hasil tes menunjukkan bahwa Ping Ping menderita tekanan darah tinggi dan kalium darah rendah, gejala khas penyakit yang disebut Hiperplasia Adrenal Kongenital, yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan seksual. Dokter mengatakan ini mungkin karena orang tuanya memiliki hubungan yang dekat.

Kasus tersebut menyoroti masalah jangka panjang dari buta huruf seksual di China dan kurangnya pendidikan seksual wajib di sekolah, kata seorang ahli.

Tes genetik mengungkapkan kariotipenya adalah 46, XY, pola yang biasanya ditemukan pada laki-laki yang memiliki alat kelamin yang tidak jelas laki-laki atau perempuan, kata Dokter Dong Fengqin, ahli Endokrinologi.

Pingping mengetahui bahwa meskipun dia tidak memiliki rahim atau ovarium seperti wanita pada umumnya, dia juga kekurangan alat kelamin laki-laki atau jakun.

“Kami juga tidak menemukan testis tersembunyi di tubuhnya. Mungkin itu karena dia cukup tua dan itu telah merosot dan berhenti berkembang," kata Dong.

Sementara tekanan darah dan tingkat potasiumnya sekarang telah terkendali, rumah sakit mengatakan dia belum mengambil keputusan tentang jenis kelamin yang dia inginkan.

Hu Shaohua sebagai Wakil Direktur Pusat Kesehatan Mental rumah sakit mengatakan bahwa selain masalah fisik, hal terpenting sekarang bagi Pingping adalah membangun kembali identitas gender.

“Butuh waktu lama untuk membangun kembali peran sosial dan membangun kembali keluarga dan ini akan menjadi proses yang melelahkan, di mana intervensi psikologis diperlukan. Tapi Pingping belum meminta bantuan dari kami sejauh ini,” kata Hu.

Dokter mengatakan, deteksi dini oleh keluarga akan mempermudah prosesnya.

“Mereka seharusnya pergi untuk check-up bertahun-tahun yang lalu. Ini menunjukkan betapa mereka sangat kekurangan pengetahuan seksual,” katanya.

Dia menambahkan, pernikahan kerabat orangtua Pingping dan ketidaktahuan mereka tentang kondisinya menyoroti pentingnya pendidikan seksual segera dan lebih baik di China.

Meskipun ada pelajaran tentang kesehatan seksual dalam buku teks, buku-buku tersebut sering dilewati atau disentuh sebentar oleh guru biologi yang merasa pengajaran mata pelajaran itu canggung.

Mulai Juni, undang-undang yang baru-baru ini diubah untuk melindungi anak di bawah umur, akan mewajibkan sekolah dan taman kanak-kanak untuk melakukan pendidikan seks "sesuai usia".

Laporan: Aufa Prasya Namyra