Misi Ekstrem Quique Setien Kembalikan Filosofi Barcelona Berpotensi Blunder

Barcelona - Quique Setien belum benar-benar membentuk Barcelona sesuai gayanya. Sang mentor terlihat masih terus bereksperimen dengan sejumlah kombinasi, mencoba memaksimalkan potensi skuadnya.

Setien juga mengusung misi penting untuk mengembalikan filosofi permainan Barcelona. Sejak kedatangannya, Barca mencoba kembali ke akar permainan mereka, yakni kombinasi umpan-umpan pendek dan penguasaan bola.

Tujuh pertandingan telah dilalui Setien, hasilnya belum benar-benar meyakinkan. Barca bahkan tersingkir dari Copa del Rey dan belum menang meyakinkan di La Liga.

"Perihal formasi, mungkin kami mencoba mengubah beberapa hal, 4-3-3 atau 4-4-2, tapi kami harus berbicara dengan para pemain dan menilai banyak hal. Sistem bisa berubah, saya tidak berkata tidak."

Kalimat di atas merupakan penegasan pertama Setien ketika tiba di Barcelona. Sejak saat itu dia terus mengulanginya.

"Kami akan terus mencoba beberapa hal, masih ada hal-hal yang kurang dari Barcelona dalam gagasan saya. Saya tidak tahu apakah itu bakal sempurna, tapi mendekati."

Setien terbilang berani, perubahan-perubahan yang dia maksud cukup ekstrem. Terbukti, Barcelona bahkan pernah bermain dalam formasi 3-5-2, yang ternyata tidak berjalan cukup baik.

Formasi Gagal

Pelatih Barcelona, Quique Setien. (AFP/Lluis Gene)

Formasi 3-5-2 ini tidak benar-benar berhasil. Saat itu Setien meminta Sergi Roberto jadi bek kanan dalam formasi tiga bek tengah, di samping Gerard Pique dan Samuel Umtiti.

Ansu Fati jadi wing-back kanan, Jordi Alba di kiri. Sergio Busquets jadi gelandang jangkar, dengan Arturo Vidal dan Ivan Rakitic sedikit di depannya. Lalu, Lionel Messi dan Antoine Griezmann jadi dua striker.

Setien beberapa kali mengutak-atik personil, tapi taktik ini terbukti sulit. Barca tampak rapuh dan mudah kecolongan serangan balik lawan.

Ingin mengembalikan identitas tim, Setien kembali menggunakan formasi klasik 4-3-3. Dia menurunkan dua bek sayap murni dengan Nelson Semedo dan Alba, Busquets-De Jong-Vidal di tengah, lalu Ansu Fati jadi penyerang sayap kiri.

Formasi ini manjur, Barca menang besar atas Laganes dan Levante. Mereka bisa menggempur lawan seperti seharusnya, membuat pertahanan mana pun kerepotan.

Setien mempertahankan formasi ini dalam kunjungan ke San Mames. Sayangnya, Barca takluk 0-1 dari Athletic Bilbao dan harus tersingkir dari Copa del Rey lewat gol di menit ke-90+3.

"Hasil selalu yang paling penting, tapi sensasi juga diperhitungkan. Tim kami bermain sangat bagus dan saya kira kami merupakan tim yang lebih superior," ujar Setien.

Mulai Menemukan Bentuk

Pelatih Real Betis Quique Setien memegang bola saat anak asuhnya melawan Villarreal CF pada pertandingan Liga Spanyol di Stadion Benito Villamarin, Sevilla, 3 Februari 2018. Setien berpengalaman melatih Racing Santander, Poli Ejido, Logrones, Lugo, Las Palmas, dan Real Betis. (Cristina Quicler/AFP)

Teranyar, pada laga sulit kontra Real Betis di Benito Villamarin, Setien berubah menggunakan formasi 4-4-2 diamond. Laga ini sulit, Barca pernah dominan, juga sempat kesulitan.

Artinya, bisa jadi Setien bakal kembali mengandalkan 4-3-3 pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Barca bakal bermain dengan cara-cara dahulu.

Sumber asli: Sport

Disadur dari: Bola.net (Richard Andreas, Published 12/2/2020)

Video