Misi ke Bulan Bikin NASA Boros

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah

VIVA – Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) menambah 18 mesin lagi untuk pengembangan Megaroket Space Launch System untuk Artemis dalam misi pertama program ke Bulan.

Pesanan terbaru ini menghabiskan biaya US$1,79 miliar atau Rp26,7 triliun. Dikutip dari situs Space, Kamis, 14 Mei 2020, Perusahaan Aerojet Rocketdyne akan menyediakan 18 mesin RS-25 untuk memberi daya pada roket SLS di masa depan. Pesanan ini membuat total biaya pembelian menjadi US$3,5 miliar (Rp51,5 triliun).

Setiap roket akan menggunakan empat mesin RS-25 untuk meluncurkan pesawat ruang angkasa pada ketinggian 65 meter. Dihadirkan juga dua penguat roket untuk membawa kapsul berawak Orion NASA. Rencananya program pengembalian astronot ke Bulan akan terjadi pada 2024.

NASA sebelumnya telah memiliki 16 mesin untuk digunakan pada empat roket pada misi Artemis 1 hingga 4. Misi Artemis 1 diperkirakan meluncur pada 2021. Mesin akan ditanamkan pada bagian inti SLS dan akan dilakukan uji coba di Pusat Peluncuran Stennis.

Namun, pekerjaan ini masih tertunda sejak Maret lalu karena pandemi Virus Corona (COVID-19). Perjanjian dengan Aerojet Rocketdyne mengharuskan perusahaan menyediakan 24 mesin SLS. Jumlah ini akan cukup untuk enam penerbangan. Perusahaan itu sudah memulai produksi enam mesin RS-25.

"Kami telah memulai kembali jalur produksi, mendirikan basis pemasok, dan membangun mesin menggunakan teknik-teknik canggih yang bisa mengurangi biaya dan waktu dalam pembuatan mesin," kata Manajer Mesin SLS, Johnny Heflin.

Berat empat mesin SLS mencapai 2 juta ton untuk misi ke Bulan. Sementara itu, NASA juga sudah memperbarui mesin warisan dari pesawat ulang-alik dengan pengontrol komputer dan ditingkatkan agar mesin bisa melakukan tuntutan kinerja yang lebih tinggi.