Misi Penyelamatan KRI Nanggala 402: Sulit dan Berisiko

Dedy Priatmojo
·Bacaan 3 menit

VIVA – Seluruh unsur kekuatan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dibantu Polri, Basarnas, BPPT hingga bantuan asing masih terus dikerahkan untuk pencarian dan penyelamatan kapal selam KRI Nanggala 402 yang dilaporkan hilang dan dinyatakan tenggelam di perairan Bali.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono menyebut KRI Nanggala yang hilang kontak sejak 21 April 2021, terdeteksi berada di kedalaman laut 850 meter. Posisi kedalaman menyelam yang tidak semestinya untuk KRI Nanggala 402.

"Kedalaman yang kita deteksi ada pada kedalaman 850 (meter)," kata Laksamana Yudo saat menggelar konferensi pers, Sabtu, 24 April 2021.

Seperti diketahui, KRI Nanggala 402 merupakan kapal selam buatan Jerman tahun 1978 dari galangan Howaldtswerke- Deutsche Werft (HDW). Sempat dilakukan perbaikan di Howaldtswerke dan selesai pada 1989. Kemudian kembali melakukan maintenance secara menyeluruh di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) Korea Selatan pada 2009-2012.

Pada perbaikan ini, sebagian struktur atas kapal diganti dan sistem persenjataan, sonar, radar, kendali tempur, dan propulsi dimutakhirkan. Kemampuan menyelamnya pun telah di-upgrade. Dari awalnya kedalaman selam 200 meter bertambah menjadi 257 meter (843 ft).

Tentu tidak bisa dibayangkan ketika kapal selam yang semestinya berada di kedalaman 257 meter, terperosok di kedalaman 850 meter.

KSAL Laksamana Yudo pun mengakui misi penyelamatan dan evakuasi kapal yang berada di kedalaman 850 meter sangat berisiko dan memiliki tingkat kesulitan tinggi. "Ini riskan dan memiliki kesulitan tinggi," ujar dia

Meski sulit dan risiko di depan mata, KSAL menegaskan tim gabungan akan terus berupaya melakukan pencarian dan mengevakuasi KRI Nanggala 402 beserta awak kapal yang berjumlah 53 orang.

"Dengan kesulitan ini kita tetap jalankan prosedur pengangkatan dan evakuasi. Semoga Tuhan beri jalan terbaik," ungkapnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menaikkan fase pencarian kapal selam KRI Nanggala 402 yang hilang di perairan bali. Pencarian dinaikkan dari fase submiss atau hilang ke fase subsunk yaitu tenggelam dengan membawa 53 personel terbaik TNI AL.

"Saya atas nama Panglima TNI menyampaikan rasa prihatin yang mendalam. Kita bersama-sama mendoakan supaya pencarian ini terus bisa dilaksanakan dan bisa mendapatkan bukti-bukti kuat," kata Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dalam jumpa pers, Sabtu.

TNI tengah melakukan pembahasan rencana evakuasi KRI Nanggala 402 dengan melibatkan International Submarine Escape and Rescue Liaison Office (Ismerlo), yang memiliki standar proses penyelamatan kapal selam.

Sejauh ini skenario yang disipakan antara lain menggunakan metode embusan, yaitu memasukkan selang pada pipa yang terdapat pada kapal selam untuk mengangkat naik kapal selam tersebut. Robot kapal selam mini yang ada di kapal Singapura MV Swift Rescue akan dikerahkan untuk misi penyelamatan ini.

"Swift Rescue punya Singapura juga memiliki kapal selam mini sebagai robot di bawah itu untuk memasang peralatan," ujar KSAL Laksamana Yudo Margono.

Pencarian kapal saat ini terkonsentrasi di sembilan titik pada perairan utara Bali, yaitu sekitar 40 kilometer dari pesisir Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng.

Sembilan titik itu jadi daerah fokus penyelidikan karena tim pencari sempat menemukan tumpahan minyak serta mendeteksi daya magnet cukup kuat pada kedalaman 50—100 meter.

Selain 21 KRI, potensi SAR Polri, Basarnas dan BPPT, misi penyelamatan KRI Nanggala 402 ini juga didukung sejumlah kapal dari negara sahabat. Antara lain kapal bantuan MV Swift Rescue (Singapura), MV Mega Bhakti (Malaysia), HMAS Ballarat dan HMAS Sirius (Australia) serta SCI Sabarmati (India).

Amerika Serikat juga mengirimkan pesawat patroli maritim berteknologi canggih milik US Navy, P-8 Poseidon untuk membantu mendeteksi keberadaan suatu benda di dalam laut. Dirancang khusus untuk mencari kapal selam.

Diketahui KRI Nanggala-402 dilaporkan telah hilang kontak pada pukul 03.00 WITA, Rabu (21/4) oleh otoritas TNI saat latihan peluncuran torpedo nomor 8 di perairan Bali. Komunikasi terakhir dengan KRI Nanggala-402 berlangsung pada pukul 04.25 WITA atau pada saat komandan gugus tugas latihan akan memberi otorisasi penembakan torpedo.

Hingga hari keempat pencarian kapal selam nahas tersebut masih dilakukan.