Misinformasi! Terapi air seni sembuhkan penyakit kronis

Jakarta (ANTARA/JACX) - Air seni, disebut dalam sebuah unggahan di Facebook pada 17 Agustus bermanfaat sebagai obat alami tubuh.

Unggahan berbahasa Inggris itu mengatakan air seni adalah sari alami ilahiah yang mengalir dari tubuh manusia dan menjadi kekuatan penyembuhan untuk berbagai jenis penyakit.

Air seni, dalam unggahan itu diklaim dapat mengobati penyakit kanker, diabetes, tekanan darah tinggi, HIV/AIDS, gagal ginjal, hingga keterbelakangan mental.

Unggahan itu juga menyebut air seni juga dapat memperkuat kekebalan tubuh, memperbaiki gangguan saraf, hingga membuang racun dalam tubuh, selain memperkuat sejumlah organ vital seperti otak, jantung, paru-paru, pankreas, hingga saluran pencernaan.

Benarkah terapi air seni dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis?

Unggahan misinformasi yang menyatakan terapi urin dapat mengobati berbagai peyakit kronis. (Facebook)
Unggahan misinformasi yang menyatakan terapi urin dapat mengobati berbagai peyakit kronis. (Facebook)


Penjelasan:
Berdasarkan penelusuran ANTARA, tidak ada dasar ilmiah atau medis yang menguatkan khasiat urin atau air seni untuk mengobati semua penyakit kronis.

Ian Musgrave, farmakologis molekuler dan ahli toksikologi dari University of Adelaide, seperti dikutip Kantor Berita Australia, mengatakan minum air seni untuk mengobati penyakit seperti kanker adalah ide yang buruk.

Minum urin sebagai terapi alternatif tidak didukung penelitian secara ilmiah.

Musgrave mengatakan minum air seni sebenarnya sangat berbahaya dan berpotensi menyebabkan kemungkinan penularan organisme menular bahkan kematian orang.

Pendapat senada disampaikan profesor farmakologi di Pusat Penelitian Masyarakat Kanker Auckland, Mark McKeage, yang mengatakan tidak ada dukungan kajian ilmiah tentang urin dapat digunakan sebagai terapi pengobatan sejumlah penyakit.

Peneliti dari University Collage London, Inggris, Jutta M. Loeffler, seperti terdapat pada situs Perpustakaan Kesehatan Nasional, Institut Kesehatan Inggris, menyebut terapi urin dilakukan sejak ribuan tahun lalu dalam konteks kebutuhan dasar akan kesehatan berhadapan dengan kesulitan ekonomi.

Loeffler mengutip penelitian Ogunshe, Fawole, dan Ajayi yang mengkaji penggunaan urin sebagai terapi alternatif di Afrika. Kajian itu menyebut terapi penggunaan urin makin populer karena peningkatan kemiskinan.

Loeffler mengatakan urin yang telah keluar dari tubuh tidak lagi steril seperti saat diproduksi di ginjal.

Urin umumnya mengandung zat urea (25g/hari), asam urat (1g/hari), kreatinin (1,5g), berbagai elektrolit (10g/hari, sebagian besar NaCl), fosfat dan asam organik (3g/hari), dan hanya sejumlah kecil protein (40-80mg/hari), dan sejumlah hormon, glukosa, serta vitamin larut air. Tapi, urin yang keluar dari tubuh dapat terkontaminasi berbagai bakteri.

Informasi yang diperoleh ANTARA dari situs resmi RS Cipto Mangunkusumo, bukti-bukti terkini terkait keamanan dan manfaat urin sebagai terapi masih dipertanyakan.

Orang yang melakukan terapi urin, terutama urin unta, justru terpapar infeksi bakteri bruscella dan virus MeRS-CoV.5-8.

Terdapat flora normal yang hidup di sekitar organ genitalia mahluk hidup. Flora itu dapat menginfeksi seseorang yang menggunakan urin sebagai terapi dan justru menimbulkan penyakit.

Klaim: Terapi air seni sembuhkan penyakit kronis
Rating: Misinformasi

Cek fakta: Terapi bawang dapat sembuhkan kanker?

Baca juga: Ancaman "Overactive Bladder" cenderung diabaikan

Baca juga: Alasan sebaiknya pria tak kencing sambil berdiri