Misinformasi! Vaksin COVID-19 tiap 6 bulan sekali

Jakarta (ANTARA/JACX) - Pemerintah terus mendorong peningkatan jumlah penerima vaksin COVID-19 dosis penguat (booster) untuk masyarakat umum.

Di satu sisi, pemerintah terus menggenjot cakupan vaksinasi booster kedua bagi tenaga-tenaga kesehatan di Tanah Air.

Namun pada 22 Juli 2022, sebuah unggahan Twitter menyatakan penyuntikkan vaksin COVID-19 perlu dilakukan setiap enam bulan sekali.

Berikut narasi yang disematkan pada unggahan itu:
"Kalau ‘6 bulan’ pasca vaksin anti bodi jadi drop, maka setiap orang jadi ketergantungan untuk di Booster lagi. Apakah seumur hidup setiap orang harus vaksin covid tiap 6 bulan sekali? Artinya apa? Anti bodi alamiah telah dirusak oleh vaksin covid sejak pertama kali disuntikkan."

Unggahan itu telah disukai 43 pengguna lain Twitter.

Apakah suntikan vaksin COVID-19 perlu dilakukan setiap enam bulan sekali?

Unggahan misinformasi tentang vaksin COVID-19 dilakukan enam bulan sekali. (Twitter)
Unggahan misinformasi tentang vaksin COVID-19 dilakukan enam bulan sekali. (Twitter)

Penjelasan:
Epidemiolog sekaligus Juru Bicara Satgas COVID-19 Rumah Sakit Univesitas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto, seperti terdapat pada situs Satgas COVID-19, mengatakan antibodi yang menurun pada individu bukan satu-satunya indikator pemberian vaksin booster.

Kementerian Kesehatan juga belum menetapkan kebijakan terkait pemberian booster secara berulang apakah setiap tiga bulan atau enam bulan sekali.

Sejumlah penelitian menyebut antibodi dalam tubuh menurun, pada enam bulan, setelah disuntik vaksin COVID-19. Namun, hasil penelitian itu tidak dapat menjadi dasar pemberian vaksin setiap enam bulan sekali.

Dalam laporan ANTARA, Kementerian Kesehatan melakukan survei antibodi COVID-19 setiap enam bulan sekali untuk mengetahui tingkat kekebalan tubuh terhadap serangan virus itu.

Survei enam bulan sekali itu bukan berarti termasuk penyuntikkan vaksin COVID-19 enam bulan sekali.

Klaim: Vaksin COVID-19 tiap 6 bulan sekali
Rating: Misinformasi

Cek fakta: Hoaks! Vaksin COVID-19 sebabkan kerusakan organ tubuh anak

Baca juga: Analis: Biaya vaksinasi perlu masuk tanggungan BPJS Kesehatan

Baca juga: Unair: Vaksin Merah Putih awali langkah besar RI di industri farmasi