Misteri Asal Usul Cincin Saturnus Kini Terpecahkan

Merdeka.com - Merdeka.com - Saturnus adalah planet keenam di tata surya yang dikenal dengan cincin yang mengitarinya. Bahkan dengan cincin itu, Saturnus mendapat gelar sebagai planet paling mencolok di tata surya.

Cincin yang mengitari planet Saturnus awalnya membingungkan ilmuwan meski berbagai teori mengenai terbentuknya cincin itu telah dijelaskan. Namun, kini ilmuwan memiliki teori terbaru yang mampu menjelaskan terbentuknya cincin itu.

Dikutip dari CNN, Kamis (15/9), tim ilmuwan ruang angkasa dari Institut Teknologi Massachusetts mengungkapkan cincin planet Saturnus dapat berasal dari bulan kuno yang sudah hilang.

Planet Saturnus sendiri memiliki 82 bulan. Sebab itu, tim peneliti mengusulkan planet itu mungkin pernah memiliki satu bulan lagi yang mengorbit selama beberapa miliar tahun.

Namun sekitar 160 juta tahun lalu, bulan itu menjadi tidak stabil dan mengorbit terlalu dekat ke planet Saturnus. Akhirnya bulan itu menabrak planet Saturnus dan sisa-sisa tabrakan itu terlempar ke orbit dan pecah menjadi bongkahan es kecil yang akhirnya membentuk cincin di planet itu.

Sebelumnya, ilmuwan mengungkapkan jika cincin planet Saturnus berusia lebih muda dibandingkan dengan planet itu sendiri, yaitu sekitar 100 juta tahun. Namun, studi yang dipublikasi kemarin di Jurnal Science menunjukkan temuan yang berbeda.

"Berbagai penjelasan telah ditawarkan, tetapi tidak ada yang benar-benar meyakinkan. Hal yang keren adalah bahwa usia muda cincin yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan secara alami dijelaskan dalam skenario kami, "ujar penulis studi Jack Wisdom, profesor ilmu planet di Institut Teknologi Massachusetts.

Dalam meneliti, tim ilmuwan menggunakan pengukuran yang dilakukan pada tahun 2017 di akhir misi satelit Cassini milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang menghabiskan 13 tahun menjelajahi Saturnus dan bulan-bulannya.

Bukan hanya asal usul cincin, tapi studi itu juga menjelaskan dua karakteristik yang membingungkan di Saturnus.

Sebelumnya ilmuwan yakin jika kemiringan Saturnus sebesar 26,7 derajat berasal dari interaksi gravitasi dengan planet Neptunus. Namun temuan baru menunjukkan bahwa kedua planet itu mungkin pernah mengorbit satu dengan lainnya, kemudian hilangnya bulan misterius itu mampu untuk mengeluarkan Saturnus dari tarikan gravitasi Neptunus sehingga miring hingga kini.

“Kemiringannya terlalu besar untuk menjadi hasil dari proses pembentukan yang diketahui dalam piringan protoplanet (planet berukuran bulan) atau dari kemudian, tabrakan besar,” jelas Wisdom.

Peneliti yakin bahwa bulan Titan yang mengorbit Saturnus juga mengalami kejadian ini sebab bulan itu mengorbit menjauhi Saturnus sekitar 11 sentimeter per tahunnya.

Peneliti menamakan bulan misterius itu ‘Chrysalis’ sebab mirip dengan kepompong kupu-kupu yang lama diam dan kemudian bergerak ketika kupu-kupu akan keluar.

Kini temuan baru itu harus dipastikan melalui pengujian oleh astronom-astronom lain.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]