Misteri Karbala: Tradisi Syiah di Hari Asyura dan Muharram

Syahdan Nurdin, QieyRomdani
·Bacaan 3 menit

VIVA – Karbala, salah satu kota penting di Irak, yang jaraknya 100 kilometer sebelah barat daya Baghdad. Nama Karbala berasal dari etnis Assyria, Babilonia, dan Persia.

Namun, catatan sejarah menyebutkan nama Karbala dulunya berasal dari bahasa Aramaik, Karbela. Karbala berasal dari Karb yang berarti duka cita dan bala yang artinya bencana, atau dengan kata lain Karbala yang artinya duka cita dan bencana.

Karbala sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kota-kota lain di Irak. Namun, yang membedakannya dengan kota lainnya, yaitu keberadaan makam Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW.

Husein bin Ali meninggal dunia, akibat pembantaian sadis oleh pasukan Kufah yang dipimpin oleh Umar bin Saad di Karbala hari ke-10 bulan Muharram dalam kalender Hijriyah tahun 680 M. Disebutkan dalam beberapa riwayat kepalanya sampai terpisah dari badannya.

Peristiwa itu telah terjadi lebih dari 1350 tahun silam, dan oleh karena itu. Husein bin Ali bin Abi Thalib dianggap Muslim Syiah sebagai Imam Syiah ke-3. Dari wafatnya Husein inilah awal digelar peringatan yang kemudian terkenal dengan Hari Asyura (10 Muharram).

Hari Asyura begitu penting bagi kalangan Syiah dan sebagian sufi, karena hari itu sebagai hari bergabungnya atas kesyahidan Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW pada pertempuran Karbala tahun 61 H ( 680 M).

Hari Asyura di masa pra-Islam diperingati, sebagai hari raya resmi bangsa Arab. Pada masa itu disebutkan orang-orang melakukan ibadah puasa dan bersyukur menyambut Asyura penuh sukacita.

Hari Asyura tidak hanya dirayakan berpuasa, masyarakat Arab di setiap suku berpakaian baru dan menghias kota-kota mereka semenarik mungkin.

Baca Juga: Mengenal Kepercayaan Masyarakat Jahiliyah Pra-Islam

Sekelompok bangsa Arab yang dinamakan kelompok Yazidi merayakan penuh kegembiraan. Hari Asyura biasa dirayakan muslim Syiah.

Setiap daerah yang ada komunitas Syiah menggelar acara berkabung dan dijadikan hari libur resmi. Pasar-pasar maupun perniagaan diliburkan kemudian mereka mengadakan hari kabung di malam hari.

1. Peringatan Asyura

Makam Husein bin Ali berada di pusat kota Karbala sehingga tidak heran kota ini paling banyak dikunjungi kaum Syiah, terutama pada hari-hari berkabung Muharam dan peringatan Asyura.

Diketahui, awal mula peringatan Asyura berawal dari kunjungan Sulaiman bin Syurad, pemimpin Syiah di Kufah dan pengikutnya ke makam Husein, mulai saat itulah Karbala semakin ramai.

Praktik ziarah ke makam Husein berlangsung berabad-abad, tahun 850-851 makam tersebut sempat ditutup khawatir akidah umat Islam saat itu oleh Khalifah Al-Mutawakkil Dinasti Abbasiyah.

Khalifah Al-Mutawakkil menghancurkan makam dan melarang kunjungan ke Karbala dengan ancaman hukuman berat.

Tahun 1086 makam itu dibakar yang akhirnya dibangun kembali, dan makam tersebut mengalami kerusakan berat dan penghancuran besar-besaran, akibat serangan kaum Wahabi tahun 1801 M karena dianggap keramat menjadi alasan Kaum Wahabi menghancurkan makam Husein.

Pasca serangan Wahabi, makam Husein kembali ditutup dan perayaan keagamaan Syiah dilarang di masa pemerintahan Saddam Hussein.

Tahun 1991, Karbala rusak parah dan banyak orang tewas dampak dari pemberontakan kaum Syiah. Walau sering rusak makam Husein setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam, jutaan umat Syiah berziarah tetap ke Karbala mengikuti kegiatan peringatan Asyura.

Asyura bagi umat Syiah memiliki sejarah dan arti tersendiri mengingat Asyura menjadi peringatan atas wafatnya Imam Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, dalam pertempuran tahun 680 M.

Peringatan tersebut dilakukan dengan menggelar sejumlah ritual berduka dan rekonstruksi peristiwa wafatnya Imam Hussein.

Lari Tuwairij disebut sebagai salah satu ritual penting dalam peringatan Asyura, Lari Tuwairij, adalah: para ziarah berlari menuju Masjid Imam Husein. Ritual Lari Tuwairij digelar mengenang pelarian adik Hussein, Abbas, dari Desa Tuwairij ke Karbala guna menyelamatkan Hussein dalam pertempuran abad ke-7.

2. Insiden Peringatan Asyura Telah Terjadi Kesekian Kali

Peringatan Asyura sudah menjadi tradisi masyarakat Syiah, hampir setiap tahun digelar ritual memperingati hari Arbain. Tradisi ini telah digelar ratusan tahun yang lalu.

Namun, entah apa yang melatarbelakangi terjadi kericuhan, insiden, hingga seringkali memakan korban jiwa yang jumlah puluhan orang. Kericuhan dalam peringatan Asyura di Karbala, Irak tidak hanya sekali dan insiden tersebut telah terjadi kesekian kalinya.

Tahun 2004 awal mula insiden Karbala, yang menewaskan 140 orang dalam serangkaian pengeboman di kota itu. Tahun berikutnya terjadi juga insiden serupa menewaskan 965 jiwa peziarah di sebuah jembatan melintasi Sungai Tigris di ibukota Baghdad. Peristiwa tersebut berawal dari kepanikan melanda peziarah setelah adanya rumor keberadaan pengebom bunuh diri.