Misteri Kematian PNS Wanita di DPRD Riau

Merdeka.com - Merdeka.com - Fitria Yulisunarti (40), pegawai negeri sipil (PN) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Pemerintah Provinsi Riau tewas dengan kondisi mengenaskan. Jenazah korban pertama kali ditemukan oleh sekuriti dalam Terios miliknya, di parkiran kantor DPRD Riau, Sabtu (12/9) siang. Kondisi leher Fitria terikat kain dan hidung berdarah.

Kepolisian resor kota (Polresta) Pekanbaru masih mendalami kasus tersebut. Belum diketahui penyebab utuh kematian korban apakah murni bunuh diri atau adanya unsur kriminal.

Dalam perkembangannya, polisi mengamankan rekan dekat korban berinisial F. Sejauh ini statusnya masih saksi. Dia merupakan PNS dinas di Setwan DPRD Riau. Pria itu masih diperiksa intensif.

"Saat ini sudah 12 saksi dimintai keterangan. Termasuk inisial F masih dimintai keterangan," kata Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Kompol Andrie Setiawan saat dihubungi merdeka.com, Minggu (11/9).

F diamankan beberapa jam usai kejadian. Dia diperiksa secara marathon. Sejumlah keterangan saksi juga akan membantu polisi dalam mengusut kematian Fitria. "F masih diperiksa sebagai saksi sejak kemarin," tegas Andrie.

Berdasarkan hasil autopsi, korban tewas karena jeratan kain di lehernya. "Penyebab kematian korban adalah kekerasan di leher yang menekan jalan napas ditandai dengan adanya asfiksia atau mati lemas," ujar Andrie.

Penyidik mengetahui hal itu dari hasil pemeriksaan tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau. Jeratan di leher korban yakni berupa kain yang ditemukan tergantung di pegangan tangan dalam mobil. "Kan ada kain yang melilit di bagian leher korban," ucap Andrie.

Andrie menjelaskan, rentang waktu kematian korban sekitar 12 hingga 72 jam sebelum ditemukan. Korban ditemukan tewas dalam mobil pada Sabtu (10/9) sekitar pukul 11.00 WIB. "Untuk saksi saat ini sudah 12 saksi dimintai keterangan," ujarnya.

Selain memeriksa sejumlah saksi, polisi juga menyita sejumlah CCTV di DPRD Riau untuk diteliti.

Jenazah korban pertama kali ditemukan oleh satpam berinisial EF (37) dan BFW (26). Saat itu, keduanya sedang melaksanakan patroli karena bertugas jaga pagi dengan mengecek situasi areal Kantor DPRD Riau.

Saat mengecek parkir basement, EF dan BFW melihat pintu mobil korban dalam keadaan terbuka. Keduanya tidak menghiraukan kondisi mobil itu karena sudah tahu siapa pemiliknya dan tidak ada gelagat mencurigakan.

EF dan BFW lalu kembali ke Pos penjagaan depan. Selanjutnya pada pukul 11.00 WIB, EF mengajak Ik (22) untuk kembali melakukan patroli, mereka melihat pintu mobil korban masih dalam keadaan terbuka.

"Lalu keduanya berinisiatif mendatangi mobil korban. Setelah dicek, mereka melihat korban telah meninggal dunia dalam keadaan leher terikat kain. Atas temuan tersebut EF langsung menghubungi Danrunya untuk memberitahukan kejadian itu. Kemudian dilaporkan ke kita," ucap Andrie. [cob]