Misteri Miringnya Inti Bumi: Jawabannya Ada di Laut Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Berkeley - Ilmuwan meneliti kenapa inti bumi tumbuh secara tidak simetris alias miring. Laut Indonesia disebut telah memberikan pencerahan terhadap fenomena yang selama ini menjadi misteri.

Menurut seismolog di Universitas California di Berkeley (UC Berkeley), solid-iron core di tengah planet Bumi bertumbuh lebih cepat di Laut Banda, Indonesia. Ini disebabkan karena ada proses kristalisasi yang lebih cepat, seperti dilaporkan The Independent, dikutip Kamis (17/6/2021).

Hal itu terjadi pada lapisan molten metal (besi cair) di inti bumi, yakni ketika molten metal itu mendingin dan menjadi kristal. Molten metal adalah lapisan setelah iron core.

Pertumbuhan solid-iron core di Indonesia lebih cepat, sebab entah mengapa proses pendinginan terjadi lebih cepat di lapisan molten metal tersebut di sisi Indonesia.

Menurut penjelasan di situs Berkeley, jika pendinginan lebih cepat, maka kristalisasi iron akan lebih cepat. Proses pendinginan di laut Indonesia lebih cepat ketimbang di sisi lain Bumi, yakni di wilayah Brasil.

Hal ini ternyata telah terjadi sejak lebih dari 500 juta tahun lalu. Namun, belum diketahui kenapa proses pendinginan di Indonesia bisa lebih cepat.

Daniel Frost dari Berkeley Seismological Laboratory berkata ini menjelaskan mengapa lapisan di barat bumi tampak berbeda dari sisi timur.

"Satu-satunya cara kami dapat menjelaskan ini adalah sisi satunya tumbuh lebih cepat dari sisi lainnya," ujar Frost.

Penelitian ini lantas memecahkan pertanyaan selama tiga puluh tahun terakhir, yakni mengapa kristalisasi iron lebih condong di barat ketimbang timur. Peneliti menyebut pertumbuhan asimetris ini 60 persen lebih tinggi di sisi barat.

Temuan ini juga memiliki implikasi terhadap penelitian misteri medan magnet bumi, karena medang magnet bumi berasal pergerakan yang muncul dari panas inti bumi, dan melindungi makhluk hidup dari partikel berbahaya matahari.

Misteri Usia Inti Bumi

Seorang surfer melihat Cahaya Utara atau aurora borealis di Utakleiv, Norwegia utara (9/3). Cahaya kutub terbentuk dari interaksi medan magnet Bumi dengan lapisan terluar Matahari atau Korona. (AFP/Olivier Morin)
Seorang surfer melihat Cahaya Utara atau aurora borealis di Utakleiv, Norwegia utara (9/3). Cahaya kutub terbentuk dari interaksi medan magnet Bumi dengan lapisan terluar Matahari atau Korona. (AFP/Olivier Morin)

Penemuan ini juga membuka diskusi baru mengenai sejarah inti dalam (inner core) bumi yang diperkirakan berusia 500 juta atau 1,5 miliar tahun.

Barbara Romanowicz, pakar seismolog di UC Berkeley memperkirakan usia inti dalam bumi sekitar 1 hingga 1,5 miliar tahun.

"Kami memberikan batasan longgar terkait usia inti dalam, antara setengah miliar dan 1,5 miliar tahun, itu dapat membantu depat bagaimana medan magnet bisa dihasilkan sebelum eksistensi solid inner core," ujar Barbara Romanowicz, Professor of the Graduate School in the Department of Earth and Planetary Science dan direktur emeritus di Berkeley Seismological Laboratory (BSL)

Lebih lanjut, Romanowicz menjelaskan bahwa peneliti tahu bahwa medan magnet bumi sudah ada sejak 3 miliar tahun lalu, mereka pun ingin mencari tahu bagaimana saat itu medan magnet bumi bisa terbentuk sebelum itu.

"Perdebatan tentang inner core telah berlangsung sangat lama," ujar Daniel Frost.

Infografis Film Bertema Masa Depan Bumi

Infografis film dengan tema kehancuran bumi di masa depan (Triyasni/Liputan6.com)
Infografis film dengan tema kehancuran bumi di masa depan (Triyasni/Liputan6.com)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel