Misteri Wabah Covid-19 di Korea Utara

Merdeka.com - Merdeka.com - Telah tiga pekan berlangsung sejak Korea Utara mengumumkan kasus Covid pertamanya. Pemerintah mengklaim wabah terkendali, tapi informasi detailnya masih menjadi misteri.

Kim Hwang-sun (nama samaran) tengah duduk sendiri di dapurnya di Seoul ketika teleponnya berdering. Panggilan itu dari calo China membawa kabar yang dia tunggu.

Dia telah 10 tahun melarikan diri dari Korea Utara sendirian. Dua anaknya, cucu serta ibunya yang berusia 85 tahun masih di Korea Utara.

Panggilan telepon rahasia ini satu-satunya cara dia berkomunikasi dengan keluarganya di Korea Utara. Dia tidak boleh terlalu lama bicara karena sewaktu-waktu bisa didengar. Dia ngobrol sebentar, tidak pernah lebih dari lima menit.

Dua hari sebelumnya, Korea Utara mengumumkan kasus pertama virus corona. Pemerintah merilis data mengindikasikan virus telah menyebar cepat ke setiap provinsi di negara tersebut.

"Mereka mengatakan padaku banyak orang sakit demam," kata Hwang-sun, dikutip dari BBC, Kamis (2/6).

"Saya merasa itu sangat buruk. Mereka mengatakan setiap orang berjalan keliling meminta obat kepada siapapun yang mereka temui. Setiap orang mencari sesuatu untuk menurunkan demam mereka, tapi tidak adda yang bisa ditemukan."

Dia tidak berani bertanya berapa banyak orang yang meninggal. Jika mereka didegar membicarakan kematian, itu bisa dinilai sebagai kritik terhadap pemerintah, dan dia takut keluarganya bisa dibunuh.

Sejauh ini, sekitar 15 persen populasi Korea Utara sakit demam menurut data resmi. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un mengakui kekurangan obat-obatan, memerintahkan tentara mendistribusikan stok obat yang ada.

Hwang-sun mengatakan, rumah sakit dan apotek di Korea Utara tidak pernah memiliki stok obat-obatan selama bertahun-tahun. Dokter menulis resep, dan pasien harus mencari obat yang mereka butuhkan dan membelinya, biasanya melalui seseorang yang menjualnya secara langsung dari rumah mereka atau dari pasar lokal.

"Jika Anda memerlukan anestesi untuk operasi, Anda harus pergi ke pasar untuk membelinya dan kembali ke rumah sakit," ujarnya.

"Tapi sekarang bahkan para penjual di pasar tidak punya apapun."

"Pemerintah meminta kami merebus daun cemara dan meminum ramuan tersebut," keluarganya menceritakan padanya.

Media pemerintah juga menyarankan warga berkumur air garam untuk meredakan gejala Covid.

"Ini yang terjadi ketika mereka tidak punya obat-obatan. Mereka beralih ke pengobatan tradisional," jelas Dr Nagi Shafik, yang bekerja untuk UNICEF di desa-desa Korea Utara sejak 2001.

Ketika terakhir kali Shafik berada di negara tersebut pada 2019, obat-obatan telah mengalami kelangkaan.

"Ada beberapa, tapi sangat, sangat sedikit," ujarnya.

Hampir semua obat-obatan diimpor dari China dan dua tahun terakhir perbatasan ditutup dan pasokan obat-obatan terhenti.

Lockdown nasional

rev1
rev1.jpg

Pemerintah memerintahkan lockdown nasional pada hari wabah Covid pertama kali diumumkan. Ini memicu kekhawatiran masyarakat tidak bisa mendapatkan makanan dan akan kelaparan. Namun setidaknya beberapa orang tampaknya bisa meninggalkan rumah mereka untuk bekerja dan bertani.

Foto-foto yang diambil dari perbatasan dengan Korea Selatan oleh situs web NK News menunjukkan para petani berada di lahan-lahan pertanian beberapa hari setelah lockdown diberlakukan.

Namun di tempat-tempat dengan angka infeksi tinggi, termasuk ibu kota Pyongyang, orang-orang dikurung di dalam rumah.

Lee Sang-yong yang mengelola Daily NK, situs web yang berbasis di Seoul dan memiliki jaringan sumber berita di Korea Utara, mengatakan orang-orang tidak diizinkan keluar rumah selama 10 hari pada Mei. Ketika lockdown dicabut, belasan orang ditemukan pingsan di rumah mereka karena kekurangan makanan.

Sejauh ini, hanya 70 kematian yang dilaporkan secara resmi. Ini menjadikan angka kematian Covid Korea Utara 0,002 persen, paling rendah di dunia.

"Untuk negara dengan sistem kesehatan yang buruk, di mana tidak ada orang yang telah divaksinasi, angka ini tidak masuk akal," jelas Martyn Williams dari 38 North, yang menelusuri data untuk dianalisis.

Menurutnya, selain laporan yang salah di tingkat nasional, pejabat kesehatan di daerah mungkin tidak mau mengakui berapa banyak orang yang telah meninggal, atau karena takut dihukum.

Bantuan internasional

rev1
rev1.jpg

Dalam sepekan terakhir, angka kasus baru yang dilaporkan menurun. Koran pemerintah mengklaim pemerintah telah berhasil mengendalikan penyebaran virus.

UNICEF mengatakan staf mereka di daerah telah kembali ke kantor mereka di Pyongyang setelah lockdown dicabut.

Pejabat bidang kedaruratan WHO, Dr Mike Ryan mengaku khawatir situasinya akan semakin memburuk. Dia mengatakan Korea Utara tidak memberikan mereka akses data sehingga sangat sulit untuk memberikan analisis yang layak. Dia juga mengatakan WHO telah menawarkan berkali-kali kepada Korea Utara untuk mengirim vaksin dan bantuan lainnya. Namun tampaknya Korea Utara hanya bergantung pada China, negara tetangganya.

Data bea cukai China menunjukkan impor Korea Utara dari China naik dua kali lipat dari Maret sampai April, khususnya obat-obatan.

Pada April, Korea Utara mengimpor 1.000 unit ventilator dari China, tahap pertama sejak pandemi mulai. Dari Januari sampai April, Korea Utara juga membeli 9 juta lebih masker. Ada juga peningkatan impor obat-obatan dan vaksin.

Menurut pejabat pemerintah Korea Selatan, Korea Utara mengirim tiga pesawat kargo ke China untuk mengangkut bantuan pada 17 Mei.

Citra satelit tertanggal 24 Mei menunjukkan tiga pesawat kargo Air Koryo (maskapai nasional Korea Utara) di bandara Pyongyang yang cocok dengan tiga pesawat yang terlihat di bandara Shenyang, China, beberapa hari sebelumnya.

Terpisah, seorang sumber yang diwawancarai BBC mengatakan pengiriman besar pasokan medis tiba melalui jalur laut di pelabuhan Nampo, selatan Pyongyang pada 13 Mei. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel