Mitigasi Cepat Perubahan Iklim Bisa Untungkan Industri Kelapa Sawit

·Bacaan 3 menit

VIVA – Mitigasi perubahan iklim global pada Industri kelapa sawit di Indonesia, berpotensi mendapat penambahan nilai hingga US$9 miliar atau sekitar Rp130 triliun apabila dilakukan secara proaktif.

Potensi tersebut dapat dicapai jika sektor perbankan dan investor, Pemerintah Pusat dan daerah, perusahaan dan organisasi kemasyarakatan merespons dengan sigap. Terutama dengan strategi memanfaatkan permintaan minyak sawit yang terus tumbuh, sembari mengurangi emisi gas rumah kaca, serta melindungi hutan dan lahan gambut.

Hal tersebut merupakan kajian dari lembaga berbasis Washington DC, Amerika Serikat, Orbitas. Lembaga itu fokus meneliti risiko transisi iklim untuk investor yang mendanai komoditas tropis.

Chief Executive Officer of Climate Advisers UK and the Managing Director of Orbitas, Mark Kenber mengungkapkan, dalam kajian terbaru lembaganya yang berjudul ‘Climate Transition Risk Analyst Brief’, Indonesia Palm Oil disebutkan, pelaku industri di Tanah Air akan mendapat manfaat dari transisi iklim jika menerapkan model produksi yang berkelanjutan.

Laporan ini mengungkap transisi iklim akan berdampak besar pada bisnis minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) sebagai komoditas ekspor utama Indonesia. Sejauh mana dampaknya, baik negatif atau positif, tergantung dari kecepatan respons berbagai pemangku kepentingan di Indonesia.

“Perubahan kebijakan dan hukum, inovasi dan teknologi, serta perubahan pasar akan terjadi sebagai respons atas transisi iklim. Seluruh sektor yang terkoneksi dalam perdagangan global akan terdampak termasuk kelapa sawit,” ujar Mark dalam sesi presentasi pada peluncuran kajian dalam rangkaian forum SAFE 2021, Jumat, 27 Agustus 2021.

Meski demikian dia mengingatkan, walaupun peluangnya cukup besar, risiko yang ditimbulkan jika bisnis sawit tidak dikelola secara berkelanjutan juga lebih besar. Laporan ini menunjukkan 76 persen lahan konsesi yang belum ditanami dan 15 persen konsesi yang sudah ditanami berisiko.

Lebih lanjut, Mark juga menjelaskan, terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan perusahaan sawit di Indonesia untuk mendapatkan potensi tersebut. Dengan, melakukan konservasi dan restorasi hutan secara masif, dan intensifiasi produktivitas lahan.

Kemudian, menerapkan bio-methan capture dalam produksi CPO, serta sebagai substitusi penggunaan bahan bakar fosil di sektor industri hingga transportasi.

Sementara itu, Managing Director, Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement, Sinar Mas Agribusiness & Food, Agus Purnomo menegaskan, selama ini perusahaannya telah berupaya menerapkan sawit berkelanjutan dengan beradaptasi pada tantangan perubahan iklim.

Menurutnya, ada empat strategi yang dilakukan untuk menghadapi dampak transisi iklim. Yakni menggunakan bibit unggul (high-yielding seeds) untuk mengatasi penurunan produktivitas, memperbaiki kawasan di sekitar sungai dan mencegah terjadinya kekeringan dan banjir.

Menerapkan teknologi water footprint yakni vertigasi melalui pipa-pipa yang meneteskan air di daerah kering, dan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

Baca juga: 72 Hotel dan Restoran Tutup Permanen di Yogyakarta karena PPKM

Dalam kesempatan yang sama, Vice President Corporate Banking 6 Bank Mandiri, Nurulloh Priyo Sembodo menyebutkan, tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini sektor agrikultur, khususnya kelapa sawit, menjadi salah satu tulang punggung perekonomian. Sebab, sektor ini yang memiliki kecepatan pemulihan yang baik di masa Pandemi COVID-19.

Adapun dari sisi pendanaan, inklusivitas dan akses pembiayaan diperlukan untuk mendukung praktik industri sawit berkelanjutan. Untuk hal tersebut, Nurulloh menekankan 3 pilar strategi pengelolaan keuangan yang berkelanjutan.

“Dari Mandiri sendiri kami mengedepankan dari sisi sustainable banking untuk mengelola portofolio perusahaan yang berkelanjutan, serta mengembangkan produk dan financial service contohnya sustainable bond yang sudah kami terbitkan pada Maret tahun ini. Dari sisi operasi bisnis kami juga memantau penerapan ecofriendly operation," tambahnya.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Dedi Junaedi menambahkan, guna mendukung perkembangan sektor tersebut, banyak regulasi yang telah dikeluarkan Pemerintah. Termasuk saat ini terdapat Rencana Aksi Nasional (RAN) sawit berkelanjutan.

"Dengan melibatkan 14 kementerian/lembaga pusat, 26 gubernur dan bupati daerah sentra sawit, dan kami juga membentuk forum multi pihak”, ujar Dedi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel