Mitos atau Fakta? Kita Cenderung Tertarik pada Orang yang Mirip dengan Orangtua Kita

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Ada sebuah pernyataan bahwa seseorang akan cenderung mencari pasangan yang terlihat seperti orangtuanya. Tetapi tak banyak juga yang mengabaikan hal ini karena banyak sekali manusia ini yang memiliki kesamaan sifat.

Terlepas dari benar atau tidaknya dan agar tidak menjadi panasaran. Sebaiknya, langsung saja, simak ulasan berikut mengenai hubungan antara ketertarikan seseorang yang didasarkan pada kemiripan sifat yang dimiliki orangtuanya. Yuk! Langsung saja simak ulasan berikut ini

Beberapa Teori Psikologi

Seperti yang dilansir pada laman scientificamerican.com, teori ini awalnya dikemukakan lebih dari seabad yang lalu oleh ahli saraf Austria, Sigmund Freud, yang menyebutnya sebagai kompleks Oedipus pada pria.

Sementara, Teori analog yang diajukan oleh Carl Jung dikenal sebagai kompleks Electra pada perempuan. Teori-teori tersebut menyatakan bahwa semua anak laki-laki yang berusia antara tiga dan lima tahun secara seksual menginginkan ibu mereka dan bahwa gadis-gadis kecil menginginkan ayah mereka.

Namun, ide-ide Freud dan Jung ini sering dianggap sebagai contoh buku teks tentang gagasan yang dirancang dengan buruk menurut kriteria ilmiah dan sering menuai cemoohan dalam kuliah psikologi. Sehingga, banyak orang yang skeptis pada teori tersebut.

Studi Lain yang Mendukung Teori Ini

Ilustrasi/copyrightshutterstock/oneinchpunch
Ilustrasi/copyrightshutterstock/oneinchpunch

Ada sebuah penelitian di mana peneliti Skotlandia David Perrett dari Universitas St. Andrews menemukan bahwa pria sering kali menyukai perempuan yang mirip dengan ibu mereka dalam memilih pasangan.

Demikian pula penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih menyukai wajah pria yang menyerupai ayah mereka. Penemuan ini kemudian dilaporkan dalam artikel majalah New Scientist tahun 2002 berjudul "Like Father Like Husband."

Setelah pemeriksaan studi lebih dekat, interpretasi lain ditawarkan oleh para ilmuwan dan dalam artikel di New Scientist yang berkaitan dengan studi ini. Selama penelitian, para peneliti mempresentasikan subjek dengan foto pria dan perempuan selama sepersekian detik.

Yang tidak diketahui para peserta adalah bahwa di antara foto-foto yang ditunjukkan adalah foto diri mereka sendiri yang diubah agar terlihat seperti lawan jenis. Dan para partisipan lebih cenderung menyaukai foto diri mereka yang telah dimanipulasi.

Penelitian Lain: Tidak Ada Hubungan antara Kemiripan Orangtua dengan Pasangan pada Ketertarikan

Ilustrasi/copyrightshutterstock/interstid
Ilustrasi/copyrightshutterstock/interstid

Peneliti lainnya menyebut ini sebagai efek pemaparan belaka, sebuah fenomena di mana orang mengembangkan rasa suka pada sesuatu hanya karena mereka terbiasa dengannya. Karenanya, wajah yang mirip dengan kita umumnya tampak lebih disukai. Dan ini tidak selalu ada hubungannya dengan kemiripan dengan orangtua.

Terlepas dari penelitian ini, kesamaan seperti tingkat pendidikan yang sebanding, lingkungan sosial, pandangan hidup, sistem nilai, dan gaya hidup cenderung mendorong ketertarikan pada seseorang. Seperti kata pepatah, "Burung dengan bulu yang sama akan berkumpul.”

Hal ini mungkin diakibatkan bahwa seseorang justru akan mencari pasangan yang mirip dirinya sendiri dan seseorang tersebut bisa saja memiliki kemiripan juga dengan orantuanya sendiri, sehingga ada angapan bahwa ia terarik pada pasangan yang mirip seperi orangtuanya. Namun ini juga masih bersifat dugaan sementara.

Jadi, tidak masalah jika dirimu memilih pendapat bahwa seseorang akan cenderung tertarik pada seseorang yang mirip dengan orangtuanya atau dirimu bisa saja skeptis pada teori-teori tersebut, karena semuanya kembali pada perspektif yang digunakan.

Demikianlah ulasan singkat mengenai hubungan kemiripan orangtua dengan ketertarikan pada pasangan. Semoga bermanfaat.

#ElevateWomen