Mitos Vaksin Covid-19: Merusak Otak hingga Tidak Kebal Terhadap Virus

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mulai menjalankan program penyuntikan vaksin virus corona Covid-19. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengakhiri pandemi yang melanda hampir 1 tahun terakhir.

Di tengah gencarnya program vaksinasi, sejumlah mitos terkait vaksin Covid-19 terus bermunculan. Satu di ataranya klaim tentang vaksin bisa membuat otak menjadi lemah hingga kehilangan akal sehat.

Klaim tersebut disebarkan akun Facebook Lois Lois pada 28 Janyaru 2021. Berikut narasinya:

"Vaksin

Penyebab otak jadi lemot dan dungu alias Bego

Dan kehilangan akal sehat!!"

Dia mengunggah klaim itu pada 28 Januari 2021. Hingga saat ini, klaim tersebut mendapat 420 respons, 150 komentar dan 47 kali dibagikan.

Namun setelah ditelusuri, klaim vaksin bisa melemahkan otak seperti diklaim netizen merupakan informasi hoaks.

Faktanya, efek samping dari vaksin, yakni nyeri otot, demam, rasa Lelah (fatigue), mual, muntah, dan sakit kepala.

Selain klaim vaksin bisa membuat otak menjadi lemah hingga kehilangan akal sehat, terdapat mitos lainnya seputar vaksin yang telah ditelusuri. Berikut rangkumannya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Vaksin Covid-19 Tidak Kebal Menghadapi Virus

Klaim vaksin masih bisa tularkan virus. (Facebook)
Klaim vaksin masih bisa tularkan virus. (Facebook)

Pengguna Facebook atas nama Lois Lois menyebut vaksinasi covid-19 percuma dilakukan. Dia mengklaim kalau vaksin masih bisa membuat seseorang tertular virus.

Dia mengunggah vaksin tidak kebal menghadapi virus pada 28 Januari 2021. Hingga saat ini, klaim yang dia buat mendapat 480 respons, 77 komentar, dan 100 kali dibagikan.

Begini narasinya:

"Setelah di Vaksin Masih bisa ketularan Virus.

Gak bisa kebal!

Trus ngapain harus di Vaksin?

(Saya menangis hik)".

Setelah ditelusuri, klaim tentang vaksin tidak kebal melawan virus dan masih bisa menularkan virus ternyata tidak benar.

Faktanya, vaksin butuh waktu untuk membentuk antibodi agar seseorang tidak terinfeksi atau dampak yang serius dari infeksi dari sebuah penyakit.

Baca selengkapnya di tautan berikut ini.

Vaksin Berisi Robot Nano dan Chip RFID

Klaim vaksin berisi robot nano dan chip RFID. (Facebook)
Klaim vaksin berisi robot nano dan chip RFID. (Facebook)

Klaim vaksin terdapat robot nano dan chip RFID beredar di media sosial. Klaim tersebut diunggah akun Facebook James Bowie pada 24 Januari 2021.

Akun Facebook James Bowie juga mengklaim kalau vaksin bisa mempunyai efek samping yang sangat parah.

Begini klaim James Bowie soal vaksin terdapat robot nano dan chip RFID:

Efek samping vaksin ada yg jangka pendek. dan ada juga yg jangka panjang terjadi nya Yg jangka pendek: LUMPUH DAN MENINGGAL

Yang jangka panjang : WABAH PENYAKIT JENIS BARU

(Tunggu saat robot nano di dalam vaksin di gabungin dengan CHIP RFID buat alat segala transaksi yg di tanam dalam tubuh dan Jaringan hape 5G udah mulai digunakan dengan menyeluruh)"

Klaim itu mendapat banyak reaksi, yakni 38 like dan 39 komentar dari warganet.

Namun setelah ditelusuri, klaim vaksin Covid-19 terdapat robot nano dan chip RFID serta bisa menyebabkan wabah baru hingga meninggal dunia merupakan informasi yang hoaks.

Vaksin sangat aman digunakan untuk melawan covid-19. Vaksin juga tidak terdapat robot nano hingga chip RFID yang menyebabkan orang bisa lumpuh hingga meninggal dunia.

Baca selengkapnya di tautan berikut ini.

Saksikan video pilihan berikut ini: