Mobil, elektro dan payet: rave drive-in di AS yang ditimpa virus

·Bacaan 3 menit

Scranton (AFP) - Terlihat jelas dari kejauhan dengan anting-anting berkedip dan jaket berpayetnya, Charity Valente menghadiri rave drive-in pertamanya: malam musik elektronik di mana para pemburu pesta berada di dalam atau di sekitar mobil mereka gara-gara pandemi virus corona. (Rave adalah singkatan dari radical audio visual experience atau pengalaman audio visual radikal).

"Kami sudah tujuh bulan menunggu musik live," kata dia, setelah berkendara empat jam dari Pittsburgh untuk melihat grup jam AS "Disco Biscuits."

Di puncak bukit terpencil di Scranton, Pennsylvania yang dijuluki "Kota Listrik" karena kota itu menjadi asal trem listrik pertama di Amerika, lebih dari 100 mobil berjejer, lampu depan mereka menyala di atas panggung tempat dua layar raksasa dipasang.

"Kami kira ini adalah cara teraman bagi orang-orang agar bisa berkumpul dan menikmati musik" selama pandemi, kata Donnie Estopinal, yang sejak Mei telah mengorganisir rave drive-in di beberapa negara bagian, termasuk Texas, South Carolina dan Florida.

Masing-masing memiliki tema berbeda-beda -DJ atau band, frekuensi radio khusus, panggung-panggung, kembang api- tetapi ada satu hal yang konstan: para penikmat rave tetap berada di dalam kendaraannya atau di sampingnya.

Tren ini lahir di Jerman pada April di mana rave-rave dalam kendaraan pertama bermunculan setelah berbagai festival musik dan klub ditutup.

Tetapi mengingat drive-in menjadi bagian klasik dari warisan Amerika, fenomena itu segera berkembang di sini dengan rave-rave diorganisir di selusin negara bagian sejak musim semi. Rata-rata, melibatkan antara 150 dan 450 mobil, dengan maksimal 2.500 penikmat pesta.

Dylan Star, berpose mengenakan yoga yang mencolok di samping Toyota putih sewaannya sebelum dimulainya festival, sangat senang memiliki "ruang sendiri" untuk menari.

Harga tiketnya antara 100 dolar AS dan 300 dolar AS per kendaraan. Itu untuk membeli tempat parkir dan area yang ditandai dengan barikade logam untuk berpesta, tidak jauh dari peserta-peserta lainnya.

Guna menghindari antrean dan risiko infeksi, alih-alih bar, ada kereta golf yang bergemuruh di lorong remang-remang yang mengantarkan bir dan koktail kepada para penjelajah yang membelinya lewat aplikasi.

Bagi banyak orang, pengalaman seperti itu terlalu mahal, tetapi bagi sebagian orang pengorbanan finansial seperti itu sepadan.

"Bisa melihat musik live untuk pertama kalinya sejak dimulainya karantina memberi kebahagiaan yang begitu banyak kepada saya, dan itu pasti akan berdampak kekal terhadap kesehatan mental saya," kata Claire Gibson (26), ketika dua temannya di sampingnya mengikuti beat musik.

Wanita muda berambut merah muda ini mengidap diabetes tipe 1 dan dengan demikian lebih rentan dari dampak kesehatan yang lebih serius jika sampai terpapar virus corona.

"Saya gugup saat hendak pergi ke acara seperti ini, karena itu saya sangat berhati-hati," kata dia.

Meskipun dia mengenal banyak orang di acara itu, dia memutuskan tetap berada di area yang sudah ditentukan dan memanfaatkan layanan pengiriman minuman.

"Orang-orang menghormati dan mengikuti aturan," kata Tiffany Griffiths, saat dia melambaikan jubah pelangi bercahaya di antara lorong-lorong.

Dia mengambil risiko dihentikan oleh segelintir penjaga keamanan yang ditugaskan untuk memastikan semua orang tetap berada di tempat yang ditentukan dan mengenakan masker.

"Orang tidak benar-benar menghormati aturan," kata satpam Tom Bohnemberger, mengenakan rompi visibilitas tinggi saat dia berpatroli di lapangan dengan seorang rekan. "Anda harus memberitahu mereka agar mengenakan maskernya, lagi dan lagi sampai akhirnya mereka mendengarkan."

"Kami tidak memiliki laporan penularan terkait Covid selama acara kami," kata Steve Masterson, penyelenggara acara Scranton, yang mengatakan dia mengikuti semua pedoman kesehatan dari otoritas setempat.

Sekalipun sejumlah orang perlu diingatkan tentang peraturan itu, sebagian besar penonton rave mengikuti teladan Gibson, menari di badan mobil pick-up-nya atau melambai-lambaikan tongkat cahaya di dekat kendaraan mereka.

"Saya tidak berpikiran ini sebagai pengalaman konser penuh," kata John Warner, yang menjalankan stan pernak pernik "Disco Biscuits". "Tetapi kami di sini bekerja, lebih baik daripada tidak sama sekali."

"Saya kira tren ini tidak akan bertahan kecuali virus bertahan," kata Griffiths.

"Kami semua ingin kembali ke festival," kata dia. "Orang ingin kembali ke seperti semula."


dax/seb/jh/acb