Mobil Hybrid Dianggap Ideal untuk Indonesia saat Ini

Yunisa Herawati
·Bacaan 1 menit

VIVA – Banyak orang menganggap, kendaraan listrik ibarat mainan yang hanya mengandalkan catu daya baterai. Saat daya listriknya habis, maka dibutuhkan isi ulang.

Namun, ada jenis kendaraan lainnya yang digerakkan oleh energi setrum, tapi sumber pengisiannya bukan dari listrik PLN. Jenis ini dikenal dengan nama mobil hybrid atau hibrida.

Sesuai namanya, mobil hybrid dibekali dinamo untuk bisa bergerak. Saat daya baterai habis, maka mesin yang kapasitasnya relatif kecil akan bekerja sebagai generator. Ada juga varian Plug-in Hybrid Electric Vehicle yang dibekali dengan soket pengisian, sehingga baterai bisa diisi melalui listrik rumah juga.

Keuntungan dari sistem ini, pemilik mobil tidak perlu khawatir soal stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau SPKLU. Mereka tetap bisa mengisi bensin di SPBU, namun tidak sesering seperti mobil yang masih memakai mesin konvensional.

Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Riyanto mengatakan bahwa untuk saat ini, mobil hybrid lebih ideal digunakan di Indonesia ketimbang battery electric vehicle yang harus dicas.

“Kalau saat ini, saya pilihnya hybrid atau PHEV. Dalam jangka panjang kalau ekosistemnya sudah ada, kita bisa beralih ke BEV,” ujarnya saat webinar dengan Kementerian Perindustrian, dikutip VIVA Otomotif Kamis 26 November 2020.

Riyanto juga menjelaskan, meski dalam Peraturan Pemerintah nomor 55 tahun 2019 kendaraan hybrid hanya diberikan insentif berupa pengurangan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah atau PPnBM, tapi angkanya sudah cukup untuk membuat konsumen tertarik.

Salah satu contohnya, mobil hybrid Nissan Kicks yang dijual dengan harga Rp449 juta on the road Jakarta, beberapa waktu lalu ludes terjual dalam waktu lima hari saja.

“Dari insentif PPnBM saja, hybrid sebenarnya sudah sangat kompetitif. Jadi, kelihatannya, hybrid dan PHEV akan berkembang,” tuturnya.