Mobil Listrik Bisa Bikin Rupiah Menguat

Yunisa Herawati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Masih banyak masyarakat Indonesia yang memandang skeptis terhadap mobil listrik, seperti daya tahan baterainya serta bagaimana jika harus melewati banjir.

Mereka juga tidak langsung tertarik untuk memiliki kendaraan canggih tersebut, karena khawatir akan mengalami kekecewaan saat nanti digunakan sehari-hari.

Padahal, sudah banyak bukti bahwa setrum yang disimpan dalam baterai cukup untuk pemakaian sehari-hari di perkotaan selama kurang lebih satu pekan.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ulang baterai kini juga sudah jauh lebih singkat, yakni kurang dari satu jam jika menggunakan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum dengan sistem fast charging.

Kekhawatiran akan minimnya infrastruktur juga sebenarnya tidak lagi beralasan, sebab produsen menyediakan alat cas untuk dipakai di rumah. Waktu yang dibutuhkan hingga baterai penuh yakni sekitar 6 jam, itu pun jika baterai dalam keadaan nyaris kosong daya listriknya.

Kehadiran industri pembuatan mobil listrik di Indonesia, kata Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Bob Azam juga bisa membantu meningkatkan pemasukan negara.

“Elektrifikasi kendaraan bisa jadi salah satu andalan komoditi ekspor. Otomotif termasuk produk berteknologi tinggi, dan kekuatan satu negara itu bisa dilihat dari kemampuan dia mengekspor produk teknologi tinggi,” ujarnya saat konferensi pers virtual, dikutip VIVA Otomotif Kamis 17 Desember 2020.

Dengan naiknya ekspor produk otomotif, kata Bob, maka hal itu akan berdampak pada neraca perdagangan, yang salah satu efeknya adalah menguatnya nilai rukar rupiah.

“Ke depan kita harus memperhatikan ekspor, supaya trade balance kami juga positif. Nanti juga akan berpengaruh ke mata uang kita yang lebih kuat,” tuturnya.

Meski demikian, Bob mengaku bahwa untuk mewujudkan itu perlu peran aktif dari pemerintah. Tumbuhnya industri mobil listrik hanya bisa dicapai dalam waktu cepat, apabila ada kebijakan yang mendukung hal itu.

“Kalau cuma pasar domestik, skala ekonominya butuh waktu. Tapi dengan adanya pasar ekspor, kami berharap skala ekonominya bisa tercapai dan pada gilirannya nanti bisa memberikan kontribusi untuk industri hulu, yaitu di tambang nikel,” jelasnya.