Modal Kerja Sulit, Ketua Aprindo: Kami Butuh Vaksinasi Keuangan

Hardani Triyoga, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta pemerintah untuk menjadikan sektor ritel sebagai salah satu sektor prioritas. Dengan masuk prioritas maka didukung pemerintah dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Aprindo Roy Nicholas Mandey menyampaikan permintaan tersebut karena sektor ritel telah mengalami tekanan ekonomi yang berat akibat pandemi COVID-19

Dia menyebut kondisi ini menyebabkan setiap satu ritel yang merupakan anggota Aprindo harus tutup hampir setiap hari. Sejak awal tahun ini, dikatakannya sudah 90 ritel gulung tikar di Indonesia.

"Toko yang tutup termasuk minimarket supermarket, departement store maupun juga tenant," kata dia di Bali, seperti dikutip Sabtu, 10 April 2021.

Roy menekankan, kondisi ini memprihatinkan untuk sektor strategis karena sektor ritel mampu menyerap tenaga kerja hingga 2 juta orang. Selain itu, sektor ini juga memasok kebutuhan pokok dan harian masyarakat.

"Kita bahkan jaga tingkat ketersedian barang. Saya setuju game changer kita vaksin, PDB dan Cipta Kerja. Tapi, kami sulit akses ke perbankan," ujarnya.

Pun, ia menambahkan, di tengah kondisi sakitnya sektor riil, upaya mendapatkan pembiayaan masih sangat sulit. Padahal, dana yang ada diperbankan menurutnya hingga saat ini masih sangat berlimpah.

"Industri banyak yang sakit, termsuk kami. Sementara dana di bank berlimpah dan ini bagaimana realisasikannya untuk tetap bertahan," tuturnya.

Maka itu, ia meminta pemerintah untuk tidak saja gencar memperhatikan proses vaksinasi COVID-19. Namun, juga harus mampu menjaga proses penyehatan pembiayaan lapangan usaha.

"Kami butuh vaksinasi keuangan selain vaksinasi pandemi. Karena tanpa itu kemana? kita punya 7 juta UMKM yang dagang di ritel seluruh Indonesia," kata Roy.