Modus Gelar Ritual di Sungai, Guru Ngaji Genit di Wonosari Cabuli Muridnya Sendiri

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Gunungkidul - Aksi tidak senonoh dilakukan seorang guru mengaji dan hadroh di Kalurahan Mulo, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul. Dua orang gadis dan seorang ibu rumah tangga, pernah menjadi korban pencabulan pria yang sudah beristri dan memiliki seorang anak tersebut.

Pelaku berinisial G (35), kesehariannya menjadi penjaga sekolah sekaligus tenaga Tata Usaha (TU) di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Kalurahan Mulo.

Di padukuhan sisi utara Kalurahan Mulo, berdasarkan informasi ada dua gadis yang telah menjadi korban aksi bejatnya. Modus yang ia gunakan adalah mengelabui gadis yang menjadi murid mengajinya untuk mengikuti kegiatan ritual yang ia selenggarakan.

Salah seorang tokoh masyarakat di lokasi yang enggan disebut namanya, membenarkan adanya aksi bejat tersebut. Pekan lalu, bahkan terjadi mediasi antara dua orang korban dengan pelaku G.

"Pekan lalu ada mediasi di rumah pak dukuh antara korban, pelaku disaksikan pak Lurah," ujar dia.

Menurut dia, dua orang gadis telah menjadi korban pencabulan. Di mana gadis yang pertama bahkan sudah sampai taraf berhubungan badan, sementara korban kedua baru sebatas meraba-raba.

Kedua korban merupakan murid dia mengaji dan juga murid hadroh (kesenian islami) yang ia ampu di masjid Padukuhan tersebut. Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat ini, memang kelompok hadroh dan mengaji semuanya adalah perempuan.

"Aksi yang pertama dilakukan di Sungai dan satunya di kuburan," ungkapnya.

Tokoh masyarakat ini mengakui memang ada yang aneh dengan cara mengajar G tersebut. Pasalnya meski mengaji dan kesenian islami namun ternyata lelaki ini sering mengajak murid-murid wanitanya melakukan ritual, seperti di kuburan ataupun di sungai.

Aksi bejat tersebut ketahuan karena keluarga salah satu korban trauma dan enggan mengaji lagi. Keluarga korban lantas menginterogasinya hingga akhirnya korban menceritakan peristiwa yang menimpanya tersebut.

"Keluarga besar korban tidak terima. Terus berniat melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Namun dimediasi terlebih dahulu di rumah pak dukuh," terangnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pernah Beraksi di Padukuhan Lain

Setelah ditelisik, ternyata G tak hanya berulah di Padukuhan sisi utara Kalurahan Mulo, ternyata lelaki ini juga pernah beraksi di Padukuhan sisi selatan Kalurahan Mulo yaitu Padukuhan Karangasem. Di mana lelaki ini sempat dilabrak suami seorang peserta yang menjadi peserta pengajian dan hadroh yang diampu oleh G.

Dukuh Karangasem Kartu Harso Utoyo membenarkan jika ia bersama warga yang lain menyidang G. Saat itu G ketangkap basah melakukan chating mesra dengan perempuan bersuami yang masih warganya tersebut.

"Kebetulan perempuan itu tetangga saya," ujar dia.

Kartu mengatakan perempuan yang sudah memiliki anak tersebut sebelumnya adalah anggota grup pengajian dan hadroh ibu-ibu padukuhan Karangasem. Karena sering hadir dalam pengajian dan latihan hadroh maka terjalin hubungan asmara antara G dengan wanita tersebut.

Suatu ketika, suami wanita tersebut menemukan chatingan mesra antara istrinya dengan G. Hingga suami wanita tersebut naik pitam dan melabrak G di SD tempatnya bekerja. Saat melabrak G, suami wanita tersebut membawa senjata tajam.

"Untung ada tetangga lain yang mendampingi. Sehingga penganiayaan tersebut tidak terjadi," paparnya.

Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, ia berinisiatif mendamaikan keduanya didampingi dengan seorang anggota TNI setempat. Keduanya akhirnya berdamai dan G mengakuinya serta berjanji tidak mengulanginya lagi.

G pun akhirnya diminta untuk tidak lagi mengajar hadroh dan mengisi pengajian di padukuhan tersebut. Dan sampai saat ini Kartu mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan G.

Lurah Mulo, Sugiyarto membenarkan adanya kasus pelecehan seksual tersebut di wilayahnya. Namun info yang ia dapat baru sebatas informasi dari korban sehingga belum mengarah ke bukti adanya pencabulan tersebut.

"Kejadiannya sekitar 2 minggu lalu dengan korban sudah dewasa di atas 18 tahun," paparnya.

Pihaknya sudah melakukan mediasi kedua belah pihak dan keluarga korban belum menerima. Mereka berencana melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Dan iapun sangat menyayangkan kejadian tersebut. Terlebih G adalah tokoh agama dan sekaligus penjaga SD yang seharusnya menjadi panutan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel