Moeldoko Akhirnya Mengaku Tak Izin Jokowi Jadi Ketum Demokrat KLB

Ezra Sihite, Foe Peace Simbolon
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku dalam sebuah perbincangan dengan Presiden Joko Widodo pada suatu waktu, Jokowi menyebut Moeldoko punya hak politik.

Hal itu dikatakannya dalam acara Saatnya Perempuan Bicara tvOne. Moeldoko saat itu ditanya soal artikel berita di VIVA berjudul 'Moeldoko:Saya Khilaf, Saya Tak Mau Bebani Presiden'. Host dalam acara tersebut lantas bertanya kepada Moeldoko konteks pernyataannya dalam artikel tersebut.

"Dalam sebuah perbincangan dengan beliau (Jokowi), Beliau pernah mengatakan 'Pak Moeldoko punya hak politik'. Saya punya hak politik untuk melakukan sesuatu yang saya yakini benar. Saya pikir enggak ada masalah, sepanjang saya seorang profesional yang tidak pernah terganggu oleh pekerjaan saya, oleh hal-hal yang di luar itu jangan sampai mengganggu yang saya lakukan. Selama ini saya bekerja oke-oke aja gitu. Itu jadi enggak ada masalah," ucap Moeldoko dikutip dari YouTube tvOne, Senin, 3 Mei 2021.

Namun Moeldoko menegaskan tidak pernah berbincang dengan Jokowi sebelumnya terkait Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB Sibolangit. Dia menjelaskan tidak pernah melapor ke Jokowi untuk minta izin maju menjadi caketum. Pasalnya, ia sadar kalau hal tersebut tidak boleh dicampur aduk dengan pekerjaannya di pemerintahan. Menurutnya hal itu adalah urusan pribadi diluar pekerjaannya di pemerintahan.

"Kan gak boleh kita membebankan presiden. Kita harus membedakan antara kepentingan pribadi dengan institusi gak boleh campur aduk," katanya.

Dalam kesempatan itu, host meyakini Moeldoko yang dicari saat itu bukan mengajukan diri mau jadi calon Ketum PD KLB Sibolangit. Mantan Panglima TNI itupun menjawab kalau dia tidak mencari tapi dicari. Moeldoko kembali ditanya oleh host siapa orang yang berani mengajaknya, namun jawaban Moeldoko mengambang.

"Sudah sampai di situ, artikan sendiri berikutnya," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Moeldoko akhirnya buka suara soal manuvernya di Demokrat. Dia menceritakan mengapa dirinya mau menerima jabatan tersebut ditengah kisruhnya masalah internal yang ada di partai besutan Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.

Dalam sebuah video yang diunggah Moeldoko di akun Instagram resminya @dr_moeldoko, Senin 29 Maret 2021, dia menjelaskan jika ada pertarungan idelogis yang kuat jelang 2024. Tak lupa, dia juga mengaku khilaf atas peristiwa ini.

"Saya juga khilaf, tidak memberitahu kepada istri dan keluarga. Saya terbiasa mengambil risiko seperti ini, demi kepentingan bangsa dan negara. Untuk itu, jangan bawa-bawa Presiden untuk persolan ini," ucap Moeldoko seperti dikutip VIVA.