Moeldoko berdialog dengan pendekar sekaligus petani di Madiun

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko bertemu dan berdialog dengan anggota perguruan pencak silat, yang juga berprofesi sebagai petani, di Madiun, Jawa Timur.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu, Moeldoko menjuluki para anggota pencak silat di Madiun itu sebagai pendekar dari Gunung Wilis.

"Sama seperti kalian para pendekar dari Gunung Wilis. Saya selaku Jenderal juga pendekar, tapi dari Gunung Tidar," kata Moeldoko, yang disambut tawa para petani.

Gunung Wilis merupakan sebuah gunung berapi yang terletak di Jawa Timur dan memiliki puncak dengan nama Trogati dengan ketinggian mencapai 2.563 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Gunung Wilis termasuk dalam wilayah enam kabupaten dan satu kota di Provinsi Jawa Timur, yakni Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, dan Kabupaten Madiun.

Baca juga: Moeldoko ajak anak muda Blitar berani berpikir seperti Soekarno

Oleh karena itu, sebutan pendekar Gunung Wilis dilekatkan Moeldoko kepada anggota perguruan pencak silat di Madiun tersebut. Sementara itu, saat masih aktif sebagai anggota TNI, Moeldoko pernah mengikuti pelatihan militer di Akademi Militer yang berlokasi di lembah Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah.

"Saya sangat berharap kepada para pendekar berani dari Gunung Wilis ini untuk menjadi pemimpin bagi para petani di Madiun," kata Moeldoko di Madiun, Sabtu (11/6).

Rangkaian kunjungan kerja Moeldoko di Jawa Timur, salah satunya ialah untuk menyikapi ancaman krisis pangan global. Sebelumnya, Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organisation/FAO) telah memberikan peringatan krisis pangan sebagai imbas dari perubahan iklim dan pergolakan geopolitik dunia.

Kabupaten Madiun sendiri merupakan salah satu lumbung pangan di Provinsi Jawa Timur. Moeldoko melakukan dialog dengan para petani di Madiun untuk menyiapkan mereka menghadapi ancaman krisis pangan.

"Kita tidak boleh lagi bertani untuk sekadar bertahan hidup, tapi saatnya kita bertani untuk kehidupan. Kita harus segera swasembada pangan dan petani harus sejahtera," ujarnya.

​​​​​​Baca juga: Sejumlah seniman Jawa Timur temui Moeldoko di Ponorogo

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel