Moeldoko pernah ancam robohkan mercusuar negara tetangga

Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko membenarkan bahwa dirinya pada pertengahan 2014 pernah mengancam akan merobohkan mercusuar negara tetangga yang berdiri di salah satu pulau terdepan Indonesia.

“Iya betul,” kata Moeldoko membenarkan perihal ancaman tersebut sebagaimana siaran pers diterima di Jakarta, Jumat.

Moeldoko memberikan klarifikasi atas pernyataan Mantan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dalam peluncuran buku karya Moeldoko berjudul "M-Leadership, Berani Memimpin” di Balai Sidang Jakarta, Kamis (10/11).

Dalam peluncuran buku itu, Purnomo menceritakan dirinya pada pertengahan 2014 mendapat informasi tentang aksi negara tetangga yang mendirikan mercusuar di salah satu pulau terdepan Indonesia. Status pulau terdepan saat itu masih dalam status sengketa.

Kemudian, Purnomo menerima telepon dari Moeldoko yang saat itu masih menjabat Panglima TNI.

”Kita akan robohkan mercusuarnya, kalau sampai dua bulan masih di sana,” kata Purnomo menirukan pernyataan Moeldoko saat itu.

Baca juga: Moeldoko ingatkan masyarakat tidak terpengaruh politik adu domba
Baca juga: Moeldoko: Kiai dan santri di Cirebon jaga situasi pada tahun politik

Moeldoko kemudian menceritakan akhirnya negara tetangga tersebut membongkar mercusuar.

“Tetapi setelah saya pensiun, saya malah mendapat gelar kehormatan dari negara tersebut,” kata Moeldoko yang tidak menyebutkan secara spesifik siapa negara tetangga itu.

Moeldoko juga menjelaskan mengenai gaya kepemimpinannya. Dia mengatakan lebih menyukai tim yang berani mengambil keputusan untuk langsung bekerja.

Hal itu seperti dengan slogan di sampul buku Moeldoko, yakni “Move, Motivate, Make a Difference”. Kata “Move” atau bergerak disebut terlebih dahulu daripada “Motivate” atau motivasi.

“Biarkan anak buah menjalankan tugas sambil berpikir,” ujar Moeldoko.

Turut hadir dalam peluncuran buku tersebut, Direktur Teknik PT. Mobil Anak Bangsa (MAB) Bambang Tri Soepandji yang menjadi salah satu penanggap. Bambang mengatakan bahwa gaya kepemimpinan Moeldoko “edan”.

“Masih mbak. Bos saya ini edan kok,” kata Bambang yang menjawab pertanyaan moderator mengenai gaya kepemimpinan Moeldoko.

Menurut Bambang, jika MAB tidak dipimpin Moeldoko, tidak mungkin perusahaan itu bisa tumbuh secepat sekarang.

Acara peluncuran buku tersebut ditutup dengan penandatanganan buku oleh Moeldoko kepada pembeli perdana.