Moeldoko Sedang Kuat, Langkah AHY Ungkap Isu ‘Kudeta’ Dinilai Tepat

Mohammad Arief Hidayat, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Isu pengambilalihan paksa atau kudeta yang menggoyang Partai Demokrat dinilai sebagai momentum bagi sang ketua umum, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY, untuk membuktikan kualitas dan kapasitasnya ke masyarakat Indonesia. Langkah AHY yang memberanikan diri mengungkap ke publik apa yang dialami partainya dianggap sikap yang tepat dan patut diperhitungkan.

Pendapat seperti itu disampaikan pengamat politik yang juga Direktur Surabaya Survey Center (SSC), Mochtar W Oetomo. "Menukil pepatah, nakhoda yang hebat tidak lahir dari lautan yang tenang; sebaliknya, nahkoda yang hebat adalah nakhoda yang terbiasa mengarungi badai dan gelombang," katanya pada Rabu, 3 Februari 2021.

Apalagi, katanya, yang dihadapi AHY adalah jenderal purnawirawan yang ada di lingkaran kekuasaan. “Tentu bukan hal sederhana untuk berhadapan langsung secara vis a vis dengan Moeldoko yang jenderal purnawirawan, mantan Panglima TNI, dan bahkan sekarang tengah kuat-kuatnya sebagai KSP (Kantor Staf Kepresidenan),” ujar Mochtar.

Baca: Sindiran Blakblakan Politikus Senior Pendiri Demokrat kepada AHY

Menurutnya, langkah yang diambil AHY ini banyak risikonya. Namun ini justru kian menyolidkan Partai Demokrat untuk menghadapi badai bersama-sama. "Secara bergiliran satu per satu DPD dan DPC Partai Demokrat menyatakan loyalitasnya dan mengecam KSP Moeldoko. Demokrat mendapatkan momentumnya untuk bangkit bersama-sama,” tandas Mochtar.

Jika tokoh sekaliber Moeldoko saja bisa dibuat gelagapan, maka kualitas dan kapasitas AHY jelas tak bisa diremehkan. Secara internal, ini menjadi momentum bagi Demokrat untuk merapatkan barisan menghadapi musuh, sekaligus untuk membersihkan ular dan tikus yang ada di rumah besar Demokrat.

“Sementara secara eksternal momentum ini menjadi peluit peringatan bagi kekuatan-kekuatan di luar Demokrat yang ingin mengganggu soliditas Partai. Momentum ini akan berdampak positif secara elektoral, baik bagi AHY sendiri maupun Partai Demokrat,” ujarnya.

Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, melihat keterlibatan Moeldoko dalam isu pengambilalihan paksa Demokrat akan menjadi pertaruhan bagi karier politiknya. "Ini berisiko terhadap karier politik Pak Moeldoko, karena kegaduhan isu pengambilalihan paksa Partai Demokrat ini telah menyeret-nyeret nama banyak pihak, termasuk nama Presiden Jokowi,” katanya.

Terlebih, menurut dia, saat ini negara tengah difokuskan dalam menyelesaikan begitu banyak problem bangsa dan negara. Mulai dari persoalan pandemi, hingga krisis ekonomi. Isu yang menyeret-nyeret nama presiden tentu akan sangat mengusik. "Manuver ambil alih paksa ini memiliki implikasi yang panjang untuk para pengagasnya," ujar Surokim.