Mohammad Husni Thamrin, penentang Belanda dari Sawah Besar

MERDEKA.COM. Mohammad Husni Thamrin adalah laku juang yang yakin kemerdekaan Indonesia bisa diraih dari dalam sistem pemerintahan penjajah itu sendiri. Bagi Thamrin menjadi bagian dari sistem, itu bagai suara pribumi yang tidak kalah menggelegar dan memekakkan telinga penjajah.

Thamrin adalah salah satu legenda Betawi yang tak kenal lelah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Dengan pilihan cara berjuang seperti itu, banyak yang menilainya sebagai pejuang yang kooperatif dan dianggap bersekutu dengan Belanda. Kaprah Thamrin seperti itu sudah menjalar dalam buku-buku pelajaran pendidikan sejarah Indonesia.

Sejarawan Bob Hering dalam bukunya, “Mohammad Hoesni Thamrin: Membangun Nasionalisme Indonesia (Hasta Mitra, 2003) menyebut Thamrin segendang sepenarian dengan Soekarno, dua tokoh yang saling bekerja sama untuk kemerdekaan Indonesia.

Thamrin berjuang melalui jalur resmi yang dilegalkan Belanda yakni Dewan Kota (Gemeenteraad pada 1919-1941) sampai di Dewan Rakyat (Volksraad, 1927-1941). Sedangkan Soekarno memilih berjuang di luar sistem, dengan pendidikan politik untuk rakyat di jalanan, alun-alun, dari desa hingga kota.

Husni Thamrin lahir di Sawah Besar, 16 Februari 1894. Dia berasal dari keluarga terpandang dan terpelajar. Dari keturunan ayahnya, Thamrin Mohammad Thabrie, seorang yang pernah menjabat wedana Batavia sekitar 1908. Sedangkan kakeknya adalah Ort, orang Inggris pengusaha pemilik hotel di kawasan Petojo yang menikahi Noeraini, perempuan Betawi.

Sejak bersekolah di HBS (Hogere Burgerschool) Koning Willem III di Salemba, Thamrin sudah magang di kantor patih Batavia kemudian kantor residen Batavia. Setelah itu dia bekerja di perusahaan pelayaran KPM afdeeling Boekhouding, sebuah usaha pelayaran terbesar di Hindia Belanda saat itu.

Thamrin muda juga aktif dalam perkumpulan kepemudaan. Pada 1920 Thamrin bergabung dalam Batavia Berichiar. Dalam perjalanannya perkumpulan itu menjadi tulang punggung perkumpulan Persatuan Kaum Betawi yang kemudian meleburkan diri ke dalam Partai Indonesia Raya (Parindra, 1935). Karir Thamrin terus menanjak. Pada 1923 Thamrin pejabat hukum (Wethouder) kemudian menjadi Wakil Walikota Betawi (loco Burgermeester).

Kemudian dalam usia 25 tahun, Thamrin dipercaya menduduki jabatan anggota Dewan Kotapraja Batavia (Gemeenteraad). Berikutnya pada umur 33 tahun dia menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad). Volksraad adalah semacam dewan perwakilan rakyat Hindia-Belanda. Thamrin percaya dengan berjuang melalui jalur legal, masuk dalam sistem pemerintahan Belanda, dia bisa memerdekan Indonesia.

Keberadaan Thamrin dalam Volksraad sudah membuat pihak Belanda takut dan penuh curiga. Sebab Thamrin selalu tampil sebagai pengkritik atas kebijakan-kebijakan Belanda yang merugikan pribumi. Nada-nada protesnya tidak melangit, bukan kritik yang berbicara masalah ideologi atau falsafah bangsa. Yang dibicarakan Thamrin adalah masalah riil yang dihadapi rakyat.

Kritik Thamrin di Dewan Rakyat lebih pada tataran kecil yang membuat pribumi menderita. Seperti protesnya pada masalah banjir, kampung yang kumuh hingga kampung-kampung becek yang kurang penerangan, sedangkan Menteng seperti menjadi prioritas. Dia juga membicarakan masalah pajak dan sewa tanah. Selain itu, dia juga mempersoalkan masalah-masalah kebutuhan rakyat, seperti harga gula, beras, kopra, kedelai dan kapuk.

Sejarawan JJ Rizal menjelaskan, Thamrin adalah sosok yang begitu ditakuti oleh Belanda. Penyebabnya, dia berjuang melalui jalur legal di Volksraad. Jalur politik yang legal dan sah secara hukum kolonial. "Gubernur Jendral Hindia-Belanda saat itu Dee Jong sampai mengatakan kalau Thamrin adalah tokoh yang paling berbahaya. Gerakannya tajam, licin, dan berbahaya," ujar Rizal saat dihubungi merdeka.com pada Sabtu (22/6) siang kemarin.

Pembelaan terhadap tokoh-tokoh pergerakan saat itu juga dilakukan Thamrin. Seperti protes Thamrin atas putusan hukuman penjara bagi Soekarno di Sukamiskin, Bandung, kemudian di buang ke Ende, Flores. Dalam peristiwa-peristiwa penting itu Thamrin selalu hadir untuk memberikan dorongan semangat dan kebutuhan hidup lainnya.

Hal-hal yang demikianlah yang merepotkan pihak Belanda. Kekesalan Belanda terhadap Thamrin akhirnya tiba juga. Setelah Thamrin memprotes putusan penahanan Soekarno dan tidak digubris. Setelah itu Thamrin dihukum tahanan rumah setelah ketahuan Soekarno berkunjung ke rumahnya.

Dalam bukunya, Hering menuliskan Thamrin tetap berpegang teguh dan yakin Indonesia bisa merdeka. Namun pihak Belanda menjawab kalau orang Indonesia belum siap untuk merdeka dan Belanda merasa punya kewajiban dan modal untuk membantu orang Indonesia. Mendengar itu Thamrin dengan santai menjawab, “Orang Indonesia tidak pernah mengundang kalian!” kata Thamrin seperti yang ditulis Hering.

Mohammad Husni Thamrin meninggal pada 11 Januari 1941 dan dimakamkan TPU Karet Bivak, Jakarta. Dalam buku Hering, pada hari pemakamannya, lebih dari 20.000 orang mengantarkan jenazah tokoh Betawi itu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Pada 1960 Presiden Soekarno menetapkannya sebagai pahlawan nasional.

Nama Mohammad Husni Thamrin juga diabadikan sebagai jalan utama di Jakarta Pusat. Selain itu sebagai nama program penataan kampung kumuh Jakarta menjadi kampung modern atau dikenal dengan Program MHT pada 1970-an. Kemudian sebagai nama Sekolah Menengah Atas Negeri Unggulan Mohammad Husni Thamrin Jakarta yang berlokasi di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.