Molekul Aneh Ditemukan di Titan, Bulan Terbesar Milik Saturnus

Lazuardhi Utama, Novina Putri Bestari
·Bacaan 1 menit

VIVA – Para peneliti menemukan molekul aneh di atmosfer Bulan Terbesar Milik Saturnus, Titan. Molekul bernama cyclopropenylidene atau C3H2 ini cukup langka ditemukan di Tata Surya.

"Kami berpikir Titan sebagai laboratorium di dunia nyata di mana bisa melihat senyawa kimia serupa dengan kehidupan Bumi di zaman kuno," kata ahli astrobiologi dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA, Melissa Trainer, melansir Science Alert, Senin, 2 November 2020.

Baca: titan-bulan-terbesar-saturnus-ditemukan" target="_blank">Titan, Bulan Terbesar Saturnus Ditemukan

Molekul aneh ini membuat dirinya harus meneliti atmosfer Titan. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui reaksi senyawa kimia yang menyebabkan molekul organik bisa terbentuk dan hujan juga turun.

Melissa dan para peneliti NASA menyatakan C3H2 sebagai molekul kecil yang aneh. Senyawa itu dikatakan tidak tahan lama dalam atmosfer karena bereaksi cepat serta bersama molekul lain akan membentuk senyawa lain.

Untuk ruang antar bintang di mana gas atau debu sangat dingin dan menyebar menyebabkan senyawa ini tidak banyak berinteraksi dengan molekul lain lalu dapat berkeliaran dengan bebas.

Pada 2016, tim yang dipimpin peneliti dari Goddard Space Flight Centre NASA, Conor Nixon, juga pernah menyelidiki soal atmosfer Titan. Penelitian menggunakan Atacama Large Milimeter/sub militer Array (ALMA) di Chile.

Saat itu diketahui terdapat tanda-tanda senyawa kimia namun belum diketahui jenisnya. Dengan membandingkan database, tim mengidentifikasi molekul sebagai cyclopropenylidene.

Tipisnya atmosfer Titan kemungkinan membuat molekul aneh itu tetap hidup di sana. Namun hingga sekarang masih menjadi misteri kenapa hanya Bulan terbesar milik Planet Saturnus itu yang memiliki C3H2 di seluruh Tata Surya.

Hingga saat ini Titan menjadi satu-satunya Bulan dalam sistem Tata Surya yang pernah dimasuki robot yang dikirim oleh manusia untuk diteliti. Mirip seperti Bumi, atmosfernya terbentuk sebagian besar dari nitrogen, namun tekanan permukaannya 50 persen lebih tinggi dari satu-satunya planet yang dihuni manusia.