Momen Pertemuan Pertama Bharada E, Bripka RR, dan Kuat Ma'ruf di Persidangan

Merdeka.com - Merdeka.com - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan kembali menggelar sidang perkara dugaan pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J atas ketiga terdakwa. Mereka adalah Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Berdasarkan pantauan merdeka.com di ruang utama persidangan Senin (7/11), ketiga terdakwa langsung digabungkan dalam satu kali pemeriksaan saksi. Ketiganya duduk di meja sebelah kiri majelis hakim dengan turut didampingi masing-masing kuasa hukum. Mereka terlihat kompak memakai kemeja putih dipadukan celana panjang hitam.

Mereka terlihat duduk dalam satu baris meja dengan tenang bersiap menjalani sidang. Ini merupakan pertemuan pertama Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf usai ditahan dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

Setelah ketiganya duduk, majelis hakim memulai membuka persidangan dengan menghadirkan total lima saksi yang akan menjalani pemeriksaan.

Kelima saksi yang hadir yakni, 1. Petugas Swab di Smart Co Lab, Nevi Afrilia; 2. Petugas Swab di Smart Co Lab, Ishbah Azka Tilawah; 3. Driver Ambulance, Ahmad Syahrul Ramadhan; 4. Legal Counsel pada provider PT. XL AXIATA, Viktor Kamang; dan 5. Provider PT Telekomunikasi Seluler bagian officer security and Tech Compliance Support, Bimantara Jayadiputro.

Kelima saksi yang hadir lalu diambil sumpah dengan dipandu Hakim Ketua Wahyu Iman Santosa sesuai keyakinan masing-masing. Kemudian sidang pun dimulai dengan agenda mendengarkan keterangan masing-masing saksi.

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [tin]