Momok Kanibalisme di Balik Krisis COVID-19 Tersibak

Syahdan Nurdin, GoenardjoadiGoenawan

VIVA - Berita bahwa Lippo Group telah melakukan aksi terpuji dengan menyulap Mall menjadi RS Darurat Corona itu perlu diluruskan. Jadi gini, kami pemilik unit apartemen Nine Residence tiba tiba mendapat link berita “Apartemen Nine Residence di Jaksel Disulap Jadi RS Darurat Covid-19.” Kaget dong.

Iya kaget banget karena kami tidak pernah mendapat pemberitahuan apapun baik dari developer maupun building management mengenai rencana pembangunan RS Darurat Covid-19.

Kami mengetahui rencana ini dari pemberitaan. Baik penghuni maupun pemilik unit apartemen yang berada tepat di atas Mall yang akan disulap menjadi RS Siloam khusus menangani pasien Covid-19 itu merasa resah, marah dan di-fait accompli. Ada bukti mereka mempersiapkan rumah sakit ini diam diam lho. Para security, tukang parkir dan building management pasang aksi tutup mulut setiap ditanya.

Di saat pemerintah menghimbau untuk physical distancing, WFH, Di Rumah Aja dan di mana negara dalam status Darurat Kesehatan, ini mendadak tanpa persetujuan penghuni dan pemilik unit, mereka menyulap area Mall yg berintegrasi dengan hunian menjadi RS Covid19. Lokasi gedung ini di tengah pemukiman penduduk yang padat.

Penghuni yang tinggal di gedung hunian Nine Residence yang terintegrasi dengan RS Covid19 terdata ada sekitar 150 orang, ada manula dan anak anak kecil yang rentan terpapar Covid19. Belum lagi sampah medis, ruang publik seperti tempat parkir yang sama, menambah keresahan pemilik maupun penghuni unit apartemen.

Mungkin sudah banyak yang membaca berita, banyak yang memuji aksi heroic group Lippo karena pemberitaan mengganti jargon apartmen/residence menjadi Mall. Kebanyakan termakan isu bahwa ini merupakan langkah terpuji demi kemanusiaan Lippo Group “menyumbang” (salah satu) Mall mereka untuk pasien Corona dan menghilangkan informasi bahwa ada 150 orang yang bisa terpapar dengan adanya RS Darurat tersebut karena tinggal di gedung yang sama. Demikian komplain salah satu penghuni Apartemen di Lippo mall mampang

Sekarang era Covid-19

Grup properti sekarang mengalami resesi, sebelum era Covid-19 sudah mengalami kekeringan likuiditas. Sejak tahun 2015 grup properti merangsek industri kesehatan.

Grup properti merangsek masuk. Ibarat kebakaran mereka masuk ke dalam dan melakulan antisipasi terhadap wabah Covid-19.

Hotel Aryaduta Semanggi milik grup properti pun disulap menjadi kamar isolasi mandiri ODP Covid-19. Tidak cukup itu, Mall Lippo Mampang sekarang jadi RS rujukan Covid-19.

Berapa banyak adalah cukup?

Sebelumnya diberitakan Hotel Cikini dan Pramuka disulap menjadi RS rujukan Covid-19 mereka dibawah badan usaha Pertamina.

Dalam situasi chaos wabah Krisis moneter Covid-19 setiap perusahaan melakukan perubahan drastis. Ada yang bertanya, kapan kita harus mereview bisnis hotel, food service, bakery, penerbangan? Ya harusnya sekarang.

Bagaimana pengusaha RI menanggapi resesi di Indonesia?

Perilaku pengusaha di RI mirip dengan kepompong di Tiongkok. Di sana disebut hybrid BUMD di sini disebut gurita konsesi anggaran.

Dalam kondisi normal seluruh harga saham turun 20%. Loh kan itu terjadi pada semua? Namun, untuk grup Lippo malah naik 50%. Anda tahu efek selisih (-) 20?n (+) 50%? Itu bisa kanibalisme. Seperti di industri kesehatan terjadi kanibalisme pemain RS lama berganti nama dioper jadi Siloam. Contohnya di Kebonjeruk, dll. Banyak terjadi kanibalisme.

Ini baru satu pemain kanibal. Bila modus ini dilanjutkan oleh RS Eka Hospital, RS Ciputra Hospital, RS Mayapada maka kanibalisne ini jadi mirip Indomaret dan Alfamart, lainnya mati.

Oleh karena itu, konglomerat papan atas nomor 4 di Indonesia mereka merangsek gurita konsesi anggaran gula. Harga normal Rp9.000 pun sudah naik dua kali lipat. Inilah perilaku pengusaha menikung di era krisis covid-19.

Oleh karena itu, yang ditakutkan oleh Jokowi itu bukan penurunan daya beli, tidak. Tapi kanibalisme ini persis permainan monopoli dan kartu domino, mereka makan anggaran APBN dan BUMN. (Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM, Alumni IPB Teknologi Pangan, dan Magister Manajemen Universitas Indonesia Lulus 1989)