Mossad Kuak Konspirasi Presiden Argentina di Pembunuhan Jaksa Bom AMIA

Bayu Adi Wicaksono

VIVA – Misteri kematian Jaksa Federal Argentina, Alberto Nisman yang tewas ditembak secara brutal di apartemennya pada Januari 2015 mulai menunjukkan titik terang.

Diduga Nisman dihabisi pembunuh bayaran terkait persidangan Presiden Cristina Fernandez de Kirchner atas tuduhan konspirasi dalam tragedi pemboman di Gedung AMIA pada 1994 yang menewaskan 85 orang Yahudi.

Seorang mantan agen intelijen Mossad, Israel, bernama Uzi Shaya baru-baru membuat sebuah pengakuan besar di program Saluran 12. Dikutip VIVA Militer dari haaretz, Jumat 12 Juni 2020.

Dalam wawancara di program itu, Shaya mengatakan sempat bertemu dengan Nisman sebelum dibunuh. Shaya bertemu untuk menyerahkan sebuah amplop berisi dokumen bukti-bukti memberatkan Presiden Argentina.

"Saya membawa jenis informasi tertentu ke perhatiannya, yang bisa menjadi penyebab pembunuhannya. Materi yang tampaknya ada hubungannya dengan segala macam transfer moneter oleh senior Argentina yang mengikat mereka ke Iran," kata Shaya.

VIVA Militer: Uzi Shaya

Namun, Shaya tak merinci keseluruhan isi dokumen yang diberikan itu. Menurutnya, intinya dalam dokumen itu ada bukti yang memberatkan bagi Kirchner terkait lalu lintas uang. "Baginya memiliki materi yang memberatkan rekening bank mereka, tidak hanya miliknya, tetapi juga milik orang lain," ujar Shaya.

Dalam tuduhannya, Nisman menyebut Krichner dan sejumlah pejabat seperti Menteri luar Negeri Hector Timerman telah menutupi dugaan keterlibatan Iran dalam tragedi pemboman terburuk dalam sejarah Argentina itu.

Atas tindakan itu, Kirchner diduga mendapat imbalan berupa kesepakatan impor minyak dan barang-barang lainnya dari Iran. Memang meski dibawa ke persidangan oleh Nisman. Tapi Krichner dan Iran sama-sama membantah berkonspirasi dan terlibat dalam pemboman itu.

Shaya bukan orang sembarangan, sebelum menjadi agen Mossad dia bekerja di Badan Agensi Kontraspionase Israel (Shin Bet). Dan Shaya sudah saling berkenalan dengan Nisman sejak tahun 2000-an.

Ketika itu Nisman memimpin tim untuk menyelidiki tragedi pemboman AMIA dibantu Mossad, FBI dan Badan Intelijen Amerika (CIA). Menurut Shaya, saat itu Israel memberikan informasi kepada Argentina yang membuktikan keterlibatan Iran dan Hizbullah dalam tragedi itu.

Baca: Jendera Perang Terganas Dunia Menyesal Kawal Trump Saat Dikepung Demo