Mpox, AIDS, dan COVID-19 menunjukkan adanya tantangan promosi kesehatan ke kelompok tertentu tanpa memicu stigma

Selama wabah penyakit menular, dokter dan pejabat kesehatan masyarakat bertugas memberikan panduan yang akurat tentang cara untuk tetap aman dan melindungi diri sendiri maupun orang-orang terdekat.

Namun, liputan media yang sensasional dapat mendistorsi persepsi publik tentang infeksi baru yang muncul, termasuk dari mana asalnya dan bagaimana penyebarannya. Hal ini dapat menumbuhkan ketakutan dan stigma, terutama terhadap masyarakat yang sudah tidak mempercayai sistem perawatan kesehatan.

Stigma rasial dan seksual seputar cacar monyet (monkeypox) inilah yang mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengganti nama penyakit menjadi mpox pada November 2022. Meski ini adalah langkah ke arah yang benar, saya yakin masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengurangi stigma sekitar penyakit menular seperti mpox.

Saya adalah peneliti penyakit menular yang mempelajari HIV, COVID-19, dan mpox. Selama pandemi COVID-19, saya adalah peneliti utama di University of Pittsburgh untuk survei nasional untuk melihat bagaimana COVID-19 telah mempengaruhi berbagai komunitas.

Komunikasi kesehatan masyarakat yang efektif tidaklah mudah ketika pesan yang bertentangan datang dari berbagai penjuru, termasuk keluarga dan teman, anggota komunitas lain, atau internet. Namun, ada beberapa cara agar pejabat kesehatan masyarakat dapat membuat pesan mereka lebih inklusif sambil mengurangi stigma.