MPR harap hubungan RI-Korsel makin baik pascapelantikan Yoon Suk-yeol

Ketua MPR Bambang Soesatyo berharap hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan semakin baik setelah pelantikan Yoon Suk-yeol sebagai Presiden Korsel, menggantikan Moon Jae-in.

"Kami berharap di bawah kepemimpinan Yoon Suk-yeol, hubungan Indonesia-Korsel yang sudah berjalan baik sejak tahun 1968 bisa tetap dipertahankan dan ditingkatkan," kata Bambang Soesatyo dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan kerja sama bilateral Indonesia dan Korsel dimulai sejak penandatanganan Joint Declaration on Strategic Partnership to Promote Friendship and Cooperation in the 21st Century oleh kedua kepala negara tersebut pada 4 Desember 2006

Kemitraan tersebut kemudian diperkuat oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Korea, yang saat itu dijabat Moon Jae-in, menjadi Special Strategic Partnership pada 9 November 2017.

Baca juga: Presiden Korea Selatan Yoon ukir jalurnya menuju puncak

Selain kerja sama ekonomi, Indonesia dan Korsel juga telah membangun kemitraan strategis di bidang pertahanan, khususnya setelah penandatanganan Agreement between the Government of the Republic of Korea and the Governenment of the Republic of Indonesia on Cooperation in the Field of Defense.

"Kedua negara telah memiliki kerja sama dalam beberapa proyek pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) dari Korsel, seperti kapal selam, pesawat latih, kendaraan tempur, dan pengembangan bersama pesawat tempur KF-X/IF-X," jelasnya.

Dia menambahkan Indonesia dan Korsel telah meresmikan Kapal Selam KRI Alugoro 405 di Surabaya pada 11 April 2019, yang merupakan hasil kolaborasi antara PT PAL dengan DSME, sebagai kapal ketiga hasil kerja sama Joint Venture Kapal Selam Batch pertama RI-Korsel.

Dia juga mengapresiasi pidato Presiden Yoon Suk-yeol dalam pelantikannya, yang menekankan bahwa pintu dialog dengan Korea Utara akan selalu terbuka. Menurut dia, program senjata nuklir Korea Utara, yang merupakan sebuah ancaman bagi keamanan Korsel, Asia Timur Laut, dan dunia pada umumnya, bisa diselesaikan secara damai.

"Sebagai pemegang mandat Presidensi G-20, Indonesia berkepentingan untuk menyerukan dan mengupayakan perdamaian dunia. Jangan ada lagi perang yang bisa menyebabkan ketegangan dunia, sebagaimana terjadi pada perang Rusia-Ukraina, yang dampaknya tidak hanya dirasakan kedua negara melainkan juga dirasakan berbagai negara dunia," ujarnya.

Agar kondisi kawasan Asia semakin aman, damai, tetap terjaga dengan baik, Bambang mengatakan unifikasi Korea harus terus didukung

Baca juga: Presiden Korea Selatan dan Megawati gelar pertemuan
Baca juga: Pemerintah baru Korsel pertimbangkan bergabung dengan pakta ekonomi AS

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel