MPR: Transformasi pengelolaan museum harus menjadi gerakan bersama

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat berpendapat transformasi pengelolaan museum harus menjadi gerakan bersama dari seluruh pihak, baik para pemangku kepentingan maupun masyarakat, dan diikuti dengan dukungan riset dan pendanaan berkelanjutan.

"Upaya transformasi di bidang budaya, khususnya pengelolaan museum, harus menjadi gerakan bersama. Pembangunan kebudayaan bukan hanya secara fisik, melainkan juga harus lewat dukungan berbagai riset kebudayaan dan pendanaan yang berkelanjutan," kata Lestari, sebagaimana dikutip dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Hal tersebut dia sampaikan dalam kegiatan Diskusi Kerja Budaya Transformasi Digital, Reka Budaya, dan Museum Kita di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat.

Baca juga: Bamsoet: Bentuk hukum PPHN akan ditentukan bersama

Lebih lanjut, Lestari menilai pemanfaatan teknologi dapat menjadi salah satu kunci dalam transformasi fungsi museum, dari yang semula hanya menjadi tempat menyimpan benda budaya, sampai akhirnya dapat pula menjadi ruang-ruang yang mampu memberi pengalaman budaya kepada para pengunjungnya.

Bahkan, menurut Lestari transformasi digital akan mampu mempersatukan dua kelompok dalam pengelolaan museum, yakni kelompok yang mengedepankan aspek konservasi dan yang mengedepankan pemanfaatan secara ekonomi.

Saat ini, dia menyampaikan bahwa transformasi digital di bidang kebudayaan banyak mendapatkan perhatian dari masyarakat dan dikaji para akademisi lewat berbagai tulisan ilmiah. Situasi tersebut, lanjut Lestari, juga dapat mendukung transformasi digital di bidang kebudayaan, terutama pengelolaan museum.

Adapun kunci untuk mengawali transformasi itu, menurut dia, adalah dengan mengubah pola pikir para pemangku kepentingan dan masyarakat. Melalui perubahan pola pikir dari para pemangku kepentingan dan masyarakat, para pengelola museum dan objek-objek cagar budaya akan mampu memahami langkah-langkah pengembangan kebudayaan.

Di masa kini, Lestari menilai museum yang berhasil menjalankan fungsinya bukan hanya berfokus untuk menjadi tempat memajang atau memamerkan benda-benda budaya, melainkan juga harus memberikan pengalaman bagi pengunjung. Dengan demikian, museum pun dapat menghasilkan pendapatan bagi pihak pengelola.

Apalagi saat ini, lanjutnya, 60 persen populasi Indonesia adalah generasi Z yang sejak lahir sudah mengenal budaya digital dan mengeksplorasi setiap pengalaman. Menurut Lestari, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pemangku kepentingan dalam pengelolaan museum dan pengembangan sektor kebudayaan secara umum.

Baca juga: HNW desak dana abadi pesantren direalisasikan
Baca juga: Wakil Ketua MPR: Penyempurnaan sistem pendidikan perlu dukungan publik