Mr P Kecil dan Hipospadia Sulit Ereksi, Mitos atau Fakta?

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Ukuran organ intim pria kerap dianggap sebagai cara memuaskan para wanita di ranjang. Tak sedikit juga yang mengaitkan ukuran Mr P dengan kemampuannya untuk bisa ereksi alias 'ngaceng'. Bagaimana faktanya?

Dokter spesialis urologi, dr Dyandra Parikesit dalam acara virtual 'Exclusive Media Talk Bersama Topgra’, menyebut bahwa ada tiga hal yang memengaruhi ereksi. Pertama, jaringan ereksi yang harus baik pada organ intim.

"Untuk ereksi butuh 3 hal yaitu transmisi neural, pembuluh darah baik, serta jaringan ereksi yang baik," tuturnya beberapa waktu lalu.

Diakui dokter Dyandra, banyak faktor yang menyebabkan ketiga hal itu gagal dalam melakukan ereksi. Bisa dari faktor psikis, ada pula pemicunya dari kelainan pada penis. Beberapa kelainan pada penis antara lain mikro penis dan hipospedia.

Pada mikro penis, ukurannya lebih kecil dibanding normalnya. Sementara pada kelainan hipospadia, lubang kemihnya tidak berada di ujung penis, bisa di batang atau bahkan pangkalnya.

"Itu juga tidak pegaruhi ereksi karena komponen tidak terganggu. Tapi pada pasien dengan kedua keluhan itu, biasanya bukan ereksinya dikeluhkan tapi saat penetrasinya yang akan terganggu," tutur dokter yang praktik di RS Mayapada itu.

Dijelaskannya, ukuran penis yang kecil kemungkinan membuat pria jadi sulit penetrasi di dalam vagina. Sementara, hipospadia biasanya sudah berbentuk bengkok sehingga turut ganggu proses penetrasi. Untuk mencegahnya, para orangtua bisa lebih waspada pada bentuk dan ukuran penis sejak anak baru lahir.

"Biasanya lihat saat masih anak-anak, beda dari pertumbuhannya. Ada normal grafiknya, untuk mikro penis ukurannya di bawah 2,5cm untuk bayi baru lahir," kata dia.