Mucikari belia pada umumnya bekas korban

MERDEKA.COM. Beberapa hari ini publik dibuat terkejut sekaligus prihatin dengan perilaku yang ditunjukkan oleh NA (15). Wanita yang masih duduk di bangku SMP ini punya kegiatan yang tidak biasa dilakukan oleh anak-anak seumurannya.

NA diketahui sering menjual teman wanitanya kepada pria hidung belang dengan iming-iming sejumlah uang. Belasan anak perempuan yang mayoritas berasal dari Surabaya ini tak luput menjadi korban dari perilaku NA.

Namun pada akhirnya, aksi NA ini berhasil diendus kepolisian Surabaya. NA ditangkap petugas saat menjual tiga temannya ke pria hidung belang. NA menjual tiga ABG tersebut dengan harga antara Rp 500 ribu hingga Rp 750 ribu. Dari transaksi itu, tersangka mendapat keuntungan Rp 250 ribu.

Bisnis tersangka NA ini bisa dibilang cukup laris manis. Seorang ABG yang menjadi anak buah tersangka, kerap menerima panggilan empat kali dalam seminggu. Siswi SMP swasta di Surabaya ini sering berganti-ganti nama untuk menutupi perbuatannya tersebut dari pihak kepolisian.

Rupanya kejahatan kemanusiaan seperti yang dilakukan oleh NA ini memang belakangan semakin meningkt. Menurut data Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), sekarang lebih banyak wanita yang diperdagangkan ketimbang pria sebagai budak.

Pertumbuhan angka wanita sebagai mucikari dalam perdagangan manusia sangat tidak sebanding dengan wanita sebagai pelaku kriminal lainnya. Artinya, wanita lebih banyak melakukan kejahatan memperdagangkan manusia ketimbang kejahatan lain.

Menurut data PBB, tentang perdagangan manusia, seperti perkiraan yang dilansir oleh departemen Trafficking in Person Office (TIP) Amerika Serikat. Jumlah perdagangan manusia mayoritas mendekati 80 persen dengan korbannya adalah wanita dan gadis remaja.

Alat yang paling utama digunakan mucikari untuk menjerat para korban adalah membuat ikatan emosi dengan meyakinkan para korban bahwa tidak ada jalan lain untuk kembali ketika sudah terjebak dalam dunia prostitusi.

Selanjutnya, cara kerja mereka adalah dengan memisahkan korban dengan semua hal yang mereka kenal, dengan kejam membuat para korban tunduk tak berdaya di bawah kendali si mucikari.

Setelah mengambil alih kehidupan korban dengan cara membuat mereka ketakutan. Lama kelamaan, korban menjadi akan sangat bersyukur walaupun hanya dengan kebaikan kecil yang diberikan oleh pelaku dalam melakukan aksinya dan iming-iming.

Mucikari hanya cukup memberikan kasih sayang agar korban tetap dalam jalur yang dia inginkan. Setelah beberapa lama, para korban kembali percaya bahwa tak ada jalan untuk kembali dan dia terjebak di dalam hubungan hidup dan mati dengan mucikari nya.

Untuk beberapa korban selamat, dapat pulih dan mempunyai kesempatan untuk menolong yang lain dalam kasus yang sama. Beberapa membuka tempat perlindungan, yang lain berbicara di depan publik tentang kejahatan ini.

Lembaga anti-perdagangan manusia yang paling ampuh adalah mereka yang terdiri dari bekas korban, karena mengerti tingkatan perdagangan dan prostitusi yang tidak dapat mungkin dipahami oleh orang yang belum pernah mengalami.

Dalam sejumlah kasus terjadi, yang menjadi pelaku perdagangan perempuan justru kebanyakan adalah bekas korban perdagangan manusia itu sendiri. Wanita yang berbelok dari korban menjadi pemangsa.

Hal ini bisa terjadi, ketika rasa benar atau salah sudah mati, ketika hanya hidup yang mereka tahu, ketika tergiur karena dengan mudahnya mendapatkan uang. Ketika hidup tak ada tujuan dan lebih perhatian terhadap diri sendiri, dan ketika hati nurani sangat sulit dan tidak mungkin merasakan yang lain, para mantan korban pelaku mucikari akan menjadi mucikari yang lain.

Namun, menurut peneliti Selo Soemardjan UI Nia Elvina mengungkapkan, apabila di lihat dari perspektif sosiologi, masalah sosial seperti ini sumber utamanya bukan karena pengalaman menjadi korban PSK, tetapi jauh lebih luas dari itu.

Nia mengatakan, maraknya masalah sosial seperti yang terjadi pada kasus siswi SMP yang menjadi mucikari karena pengaruh kapitalisme yang mengharuskan masyarakat kalangana menengah ke bawah, mau tidak mau menjadi konsumtif.

"Secara sosiologis, maraknya masalah sosial ini lebih disebabkan oleh pengaruh dari perkembangan kapitalisme yang menciptakan masyarakat menjadi konsumtif dan hedonis," jelas Nia saat berbincang, Sabtu (15/6).

Menurut dia, hidup konsumtif dan hedonis berdampak pada gaya hidup atau life style anak-anak muda sekarang terpaksa dan dipaksakan harus mewah seperti orang kebanyakan.

"Jadi, oleh kapitalis, kita mengkonsumsi barang bukan karena kebutuhan, akan tetapi lebih kepada gaya hidup yang mereka konstruksi sebagai gaya hidup modern," imbuhnya.

Dengan gaya hidup yang mewah, lanjut dia, tentu tidak mudah membuat anak-anak yang berasaal dari kalangan bawah mengikuti gaya hidup yang high class. Sehingga memicu mereka melakukan tindakan yang melanggar norma.

"Tentu, anak-anak muda kelas menengah ke bawah akan sangat sulit mengikuti gaya hidup yang disebut modern tadi, sehingga memicu mereka untuk melakukan tindakan asusila atau amoral," tutur dia.

Selain itu, kata dia, kapitalisme juga telah membentuk budaya instant dikalangan masyarakat termasuk anak-anak muda. Mereka sudah tidak mengindahkan proses dalam meraih suatu tujuan, tetapi lebih kepada cara cepat walaupun itu bertentangan dengan nilai-nilai atau norma agama atau umum.

"Sehingga dalam konteks kasus ini, itu merupakan cara instant mendapatkan uang banyak," katanya.

Oleh sebab itu, untuk menghindari meluasnya praktik mucikari di bawah umur seperti yang dilakukan oleh NA. Dia menilai, perlu mengembalikan paradigma pendidik Pancasila bagi para generasi penerus bangsa di sekolah-sekolah.

"Sehingga saya kira sangat penting sekali untuk mengembalikan paradigma pendidikan kita kepada nilai-nilai bangsa kita, yaitu Pancasila," tandasnya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.