Mudik Dilarang, Ini Respons NU Jatim dan Pengusaha Travel

Lis Yuliawati, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah resmi melarang mudik Lebaran tahun ini. Beragam respons pun bermunculan. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur meminta pemerintah menimbang-nimbang kebijakan tersebut. Pengusaha travel pun agak keberatan dengan larangan mudik tersebut.

Katib Syuriah NU Jatim Syafruddin Syarif mengemukakan, pemerintah diharapkan melakukan evaluasi pada efektivitas vaksinasi sebagai pertimbangan atas larangan mudik Lebaran. Jika kemudian vaksinasi dirasa efektif, menurutnya, larangan mudik tersebut patut dicabut.

“Sekarang oke (pemerintah melarang mudik), kami setuju karena masih pandemi. Kemudian tidak ada yang terpapar (COVID-19) karena vaksin sudah jalan. Jika yang terpapar habis tentunya larangan mudik pasti harus dicabut,” kata Syafruddin dihubungi wartawan, Selasa, 6 April 2021.

Apalagi, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatuddin Al Islami Probolinggo itu, semua daerah saat ini mendekati hijau dalam peta zona COVID-19. Hal itu mengindikasikan bahwa vaksinasi berhasil dan mendekati zero COVID-19. Jika seperti itu, Syafruddin mengimbau agar larangan mudik tahun ini dicabut.

Syafruddin mengatakan, mudik adalah tradisi yang tidak semata bermakna pulang kampung. Ada nilai silaturrahim di dalam tradisi tersebut dan itu dianjurkan di dalam Islam. Lebih dari itu, mudik juga berdampak positif pada pemulihan ekonomi.

“Dalam mudik sebetulnya ada perputaran ekonomi yang pesat. Efek baiknya sangat banyak. Saya sangat positif menilai mudik,” ujarnya.

Namun demikian, Syafruddin juga tidak antipati terhadap keputusan pemerintah jika memang kondisi pandemi masih mengkhawatirkan sehingga mudik dilarang. Sebab, di dalam Islam juga diajarkan bahwa menjaga jiwa adalah suatu kewajiban.

“Karena corona melihat situasi (dan pemerintah kemudian) melarang (mudik), ya, harus mentaati instruksi pemerintah. Tujuannya menjaga jiwa menjaga nyawa. Jagalah dirimu jangan kau jatuhkan ke kematian, kehancuran, dan sesuatu yang membahayakan,” ujar Syafruddin.

Di bagian lain, pengusaha jasa transportasi publik merasa keberatan dengan kebijakan larangan mudik. Ketua Asosiasi Pengusaha Rent Car Daerah (Asperda) Jatim, Junaedi, mengatakan pandemi COVID-19 sudah membuat pengusaha travel babak belur. Omzet anjlok 50 sampai nol persen.

Bila ditambah kebijakan larangan mudik pada Lebaran kali ini, hal itu bakal menambah kerugian para pengusaha jasa transportasi publik. "Memang, bener-bener pukulan bagi para pengusaha rental," ujar Junaedi.