Mudik Membludak dan Kebijakan Pemerintah yang Masih Lemah

·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah sudah menetapkan larangan mudik jelang hari raya Idul Fitri tahun 2021. Namun banyak yang masih kebingungan, bahkan tidak peduli dengan larangan tersebut. Kemungkinan besar ketidakpedulian masyarakat dengan peraturan tersebut karena ada kebijakan pemerintah yang lain terkait diperbolehkannya masyarakat untuk melakukan kunjungan atau piknik atau berlibur ke tempat wisata di Indonesia.

Nalar publik sejauh ini masih normal, sebab jika kita bandingkan antara berwisata dengan mudik, masih memiliki kesamaan, yaitu sama-sama melakukan perjalanan dan pertemuan. Perbedaannya hanya ada pada bentuk kata dan tempat saja.

Kini jumlah pemudik yang melakukan perjalanan pulang ke kampung halamannya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bahkan sebelum Indonesia terkena serangan pandemi Covid-19 pun, aktivitas mudik selalu saja membludak. Perbedaannya hanya satu, aktivitas mudik tahun ini mungkin akan menguras pekerjaan pemerintah dalam menangani para pemudik, yaitu dengan melakukan pengecekan dan penjegalan.

Apalagi jika si pemudik tersebut setelah diperiksa, ternyata positif terkena virus mematikan itu. Mungkin akan lebih sangat merepotkan sekali. Di beberapa perbatasan kota di seluruh Indonesia, penjagaan dan pengamanan para pemudik sangat ketat, dan tidak sedikit di jalur-jalur nasional dan jalan tol akan semakin menambah kemacetan yang dahsyat.

Arus lalu lintas sudah tidak normal seperti biasa. Lalu bagaimana cara pemerintah dalam mengaplikasikan peraturan tentang larangan mudik? Sejauh ini, seperti yang kita lihat di berita-berita dan yang nampak oleh kasat mata.

Para pemudik masih berjibaku dalam menuntaskan niat mudiknya, (meskipun) mereka tahu, mudik itu dilarang dan di lain cerita, satgas pengamanan yang bertugas pun, terlihat kewalahan mengatasinya, apalagi mereka yang bekerja tengah berpuasa. H-1 Lebaran adalah puncak arus mudik.

Pemudik membludak di jalan-jalan kota. Trotoar jalan pun terkadang seperti menyatu dengan aspal. Pemudik yang mengenakan sepeda motor sudah tidak taat lagi terhadap peraturan lalu lintas. Kerumunan di tengah jalan kini seperti sungai manusia yang sedang mengalir pelan menuju hilir. Tidak perduli polisi atau pun tentara.

Mereka hanya peduli dengan keluarga besarnya di tanah kelahiran. Yang mereka bayangkan adalah ingin segera memeluk erat keluarga mereka dengan penuh rasa bahagia sambil membuka bingkisan yang dibawa dari tempat kehidupan kedua mereka. Lalu bagaimana dengan sanksi atas tindakan para pemudik yang sudah terang-terangan melakukan perjalanan mudik?

SUMBER ASLI