Muhammadiyah Tentukan Awal Puasa Jumat

Liputan6.com, Jakarta: Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof DR KH Din Syamsuddin, mengatakan kemungkinan adanya perbedaan awal Ramadan tidak perlu dibesar-besarkan, dan berharap umat Islam beribadah dengan keyakinannya masing-masing.

Terkait ajakan pemerintah kepada Muhammadiyah untuk mengikuti sidang isbat penentuan bulan Ramadhan, Din Syamsudin justru menyatakan pemerintah tidak perlu isbat. "Untuk kali ini seharusnya pemerintah tidak perlu melakukan isbat, karena bulan belum dua derajat. Padahal, kan pemerintah patok minimal dua derajat," ujarnya kepada wartawan, Rabu (18/7).

Dia juga mengatakan, Muhammadiyah bukan hanya sekarang menentukan hal yang berbeda, karena wilayah keyakinan bukan wewenang pemerintah dan tidak boleh memasuki wilayah keyakinan. Pemerintah hanya mengayomi umat saja.

Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat penetapan awal ramadhan 1433H pada Kamis (19/7) di auditorium Kemenag yang akan dihadiri oleh semua ahli hisab dan rukyat, serta perwakilan organisasi massa (ormas) Islam turut diundang. Menteri Agama, Suryadharma Ali, pada Selasa (17/7) berharap Muhammadiyah datang ke sidang isbat untuk menunjukkan persatuan dan kebersamaan. Hal ini diungkapkan Suryadharma terkait pernyataan Din Syamsuddin yang memutuskan tidak hadir dalam isbat.

Din Syamsuddin menegaskan, organisasi yang dipimpinnya tidak akan mengikuti sidang isbat yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam menentukan awal bulan puasa dan Lebaran 2012. Muhammadiyah, menurut dia, sudah menetapkan awal puasa jatuh pada 20 Juli 2012 dan shalat tarawih mulai 19 Juli 2012. (Ant/ARI)