Muhammad dan Pengetahuan Turun-Menurun di Desa Konservasi Maleo

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Sigi - Warga Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi punya cara tersendiri merawat burung maleo untuk konservasi. Mereka menggunakan pengetahuan turun temurun untuk mencari telur-telur maleo di hutan sebelum ditangkarkan.

Muhammad (42 th) sudah membawa sebutir telur maleo yang dibungkusnya dengan kain saat keluar dari hutan di sekitar Gunung Mbadopo, Desa Pakuli Utara, Sigi, Senin siang (27/7/2020).

Padahal baru sekitar 30 menit dia ke lokasi itu untuk menengok kebun jagungnya. Rombongan sebelum dia yang ingin mencari telur bahkan keluar tanpa hasil walau sudah mengorek-ngorek tanah.

Telur itu lalu disimpan dan ditanam kembali di dalam tanah berwadah ember di kandang penangkaran maleo yang dibuat oleh kelompok Lembaga Konservasi Desa (LKD) Pakuli Utara dengan dampingan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu, hingga menetas lalu dilepasliarkan.

“Musim hujan jarang ada maleo yang bertelur, musim panas baru banyak. Burung itu selalu menyimpan telurnya dalam tanah minimal sedalam 1 meter dan selalu ada tanda khasnya,” Muhammad menjelaskan kepada Liputan6.com di Pondok, di kaki Gunung Mbadopo, Senin (27/7/2020).

Sejak kanak-kanak, Muhammad mengaku sudah terbiasa mencari telur di hutan penyangga TN Lore Lindu itu. Bahkan dahulu katanya banyak warga yang melakukan hal yang sama baik untuk dikonsumsi maupun dijual.

“Dulu harga sebutirnya (telur burung maleo) Rp25 ribu, lebih mahal dari telur ayam biasa. Itu juga membuat populasi burung itu sekarang tidak sebanyak dulu,” ceritanya.

Pengetahuan Turun-Temurun untuk Konservasi Maleo

seorang warga anggota LKD Desa Pakuli Utara memegang maleo hasil tangkaran di kandang penangkaran. (Foto:Liputan6.com/ Heri Susanto).
seorang warga anggota LKD Desa Pakuli Utara memegang maleo hasil tangkaran di kandang penangkaran. (Foto:Liputan6.com/ Heri Susanto).

Muhammad memang jadi andalan kelompoknya mencari telur-telur maleo untuk dikonservasi di hutan desa itu. Pengetahuan tentang musim bertelur maleo, tempat telur-telur ditanam maleo, hingga pemangsa yang jadi ancaman satwa ikon sulawesi itu sudah dikhatamkannya, dan didapat secara turun temurun tanpa sekolah formal.

Kini sejak dibuat lokasi penangkaran maleo di sekitar gunung mbadopo tahun 2018, dia menjadi anggota LKD. Sembari ke kebun, dia selalu menyambi mencari telur-telur besar khas burung bercorak hitam putih itu sepanjang perjalannya untuk ditangkarkan.

“Satu hari biasanya dapat dua sampai tiga telur, tapi tergantung kondisi cuaca juga kalau ke sini,” katanya.

Burung dengan sebutan ‘Mamua’ bagi warga setempat itu sendiri sudah akrab dengan warga desa sejak lama. Bahkan Selain di Gunung Mbadopo, habitat burung itu juga ada di sekitar gunung Mapane yang saling bersebelahan.

Di habitatnya yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari permukiman desa itu, buah dan biji-bijian seperti kemiri jadi makanan utamanya. Di sekitar lokasi itu juga terdapat kebun-kebun warga.

Muhammad bilang sejauh ini upaya konservasinya bersama rekan-rekannya di LKD Desa Pakuli Utara sudah berhasil menetaskan 11 telur maleo yang sudah dilepasliarkan. Dia bilang tanpa campur tangan manusia, burung itu sulit berkembang di alam liar.

“Di habitatnya peluang telur maleo untuk menetas kecil karena ada biawak manusia yang jadi ancamannya. Tapi kalau sudah jadi anakan dan besar, burung itu lincah dan sensitif sehingga sulit ditangkap,” Muhammad menjelaskan.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel