Muhammadiyah: Melawan COVID-19 Merupakan Bentuk Jihad Kemanusiaan

·Bacaan 2 menit
Sejumlah pasien Covid-19 saat menjalani karantina di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/12/2021). Menkes Budi Gunadi Sadikin mengumumkan temuan kasus Covid-19 varian Omicron dari pekerja kebersihan di RSDC Wisma Atlet Kemayoran. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman menyebut melawan dan menangani pandemi COVID-19 sama saja seperti jihad kemanusiaan. Sehingga dia berharap seluruh persyarikatan turun tangan agar pandemi ini segera berakhir.

“Bagaimana tidak jihad kemanusiaan, ketika kita mengawal agar orang tidak terserang COVD-19 ini kemudian terselamatkan nyawanya, barangsiapa menyelamatkan satu kehidupan, maka baginya mendapatkan pahala seperti menyelamatkan seluruh kehidupan," kata Agus di Jakarta, Sabtu, (8/1/2022).

Dalam menghadapi pandemi COVID-19, kata Agus, Muhammadiyah menerapkan tiga nilai utama, yaitu sesuai dengan prinsip imaniah yang benar, prinsip ilmiah yang benar, dan harokah (aktif bergerak).

Dalam nilai imaniah yang benar, Agus mencontohkan saat awal pandemi COVID-19, melalui media sosial banyak beredar pesan mempertanyakan mengapa harus pakai masker, sementara sakit atau tertular merupakan takdir dari Allah.

Tidak hanya itu, katanya, beredar hoaks soal vaksin di mana tak sedikit yang beranggapan bahwa vaksin merupakan konspirasi global serta telah disusupi micro chip.

Karena itu, secara iman Muhamadiyah mengawal agar tidak ada lagi masyarakat yang salah tanggap menghadapi pandemi COVID-19.

“Padahal dalil agama jelas, kita itu diperintahkan Rasul l'aa dharara wala dhirar', Janganlah kalian melakukan perbuatan yang membahayakan diri dan juga membahayakan orang lain. Nah prinsip ini yang oleh Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) kemudian dikawal agar masyarakat itu menghadapi pandemi itu dengan nilai-nilai iman yang benar. Ajaran Islam yang ada di Al Quran dan As Sunah yang benar," kata Agus seperti dikutip dari Antara.

Dengan Prinsip Ilmiah

Muhammadiyah mengawal gerakan menghadapi pandemi dengan prinsip ilmiah ilmu yang benar. Saat pandemi melanda China kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, Muhammadiyah langsung mengundang pakar untuk mengetahui soal virus ini.

Berbagai pandangan serta penelitian kemudian lahir yang menjadi dasar Muhammadiyah untuk bergerak dalam menangani pandemi COVID-19.

"Kampus-kampus besar kita ajak berdiskusi agar yang kita lakukan itu sesuai dengan kaidah ilmiah," kata dia.

Ketiga prinsip harokah berarti seluruh gerakan dalam menghadapi pandemi ini harus menjadi gerakan yang terstruktur dan bersinergi bersama lembaga lain. Semua persyarikatan, organisasi mandiri, serta relawan Muhammadiyah turun tangan menghadapi virus ini.

"Karena tidak mungkin menyelesaikan pandemi itu sendirian, tidak mungkin, maka prinsip harokah," demikian Agus Taufiqurrahman.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel