MUI Jelaskan Adab Mengubur Makhluk Diduga Babi Ngepet

Syahrul Ansyari, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 2 menit

VIVA - Hewan yang diduga sebagai jelmaan babi ngepet di Sawangan, Depok, Jawa Barat, akhirnya mati dengan cara disembelih oleh warga pada Selasa siang, 27 April 2021. Kemudian, babi itu dikubur tak jauh dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) warga sekitar.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, Ahmad Dimyati Badruzzaman, mengungkapkan dalam hukum Islam dijelaskan bahwa hukumilah apa yang nampak, dan jangan menghukum yang tidak tampak.

“Nampaknya disini nampak binatang. Ketika kita enggak yakin ini manusia apa binatang, maka hukumlah yang nampak saja,” katanya.

Atas dasar itulah, menurut sudut pandang Islam maka sebaiknya dikuburkan layaknya binatang.

“Dikuburkan jangan seperti manusia karena nampaknya binatang karena faedahnya itu tadi yang nampaknya bukan manusia,” kata Dimyati.

Baca juga: Bikin Geger, Hewan Diduga Babi Ngepet di Depok Akhirnya Dipotong Warga

Namun karena ini (diduga babi ngepet) adalah kasus baru, dan belum bisa dipastikan kebenarannya maka MUI akan melakukan kajian secara mendalam.

“Karena masalah baru kami MUI akan ada majelis fatwa untuk berembuk memberikan penjelasan. Yang menjadi pertanyaan apakah benar-benar babi jadi-jadian atau babi beneran,” katanya.

Di sisi lain, kata Dimyati, pihaknya mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya begitu saja.

“Ketika kita dapatkan berita harus ada tabayun atau bahasanya cek dan ricek, jangan langsung percaya,” ujarnya.

Kemudian, Dimyati menyarankan agar para saksi berterus terang.

“Coba ditanya kepada yang nangkap bagaimana sebelum ditangkap ceritanya secara jujur dan jelas, apakah manusia lalu berubah atau memang bentuknya babi, belum diteliti.”

Baru Pertama Kali

Dimyati sendiri baru kali pertama ini mengetahui mengenai babi ngepet dan perlu melakukan kajian lebih dalam. Namun berdasarkan pengetahuan yang ia pelajari, bahwa jin memang bisa berubah bentuk.

“Konteksnya jin, misalnya manusia manggil jin supaya masuk ke tubuhnya terus dari jin itu bisa berubah bentuk seperti jadi kakek-kakek, nenek-nenek, binatang dan lainnya,” katanya.

Adapun bentuk dari makhluk gaib itu bisa berbeda antara satu dan yang lainnya.

“Kalau dari manusia sendiri saya belum dapat keterangan bisa berubah-ubah wujud,” katanya.

Dimyati menegaskan konteks yang tertuang dalam Al-Quran pun membahas jin bukan manusia. “Dia (jin) bisa berubah wujud.”

Agar tidak menimbulkan berbagai persepsi liar, maka MUI bisa memberikan fatwa penjelasan setelah ada permintaan dari masyarakat.

“Kalau ada yang kirim surat dan minta dibahas oleh komisi fatwa nanti kami akan membahas secara berembuk,” katanya.

Ia menegaskan pembahasan ini harus melalui dasar yang resmi.

“Ya masalahnya harus ada alasan membahasnya, misal berdasarkan surat yang disampaikan pada kami baru dibahas, ada dasarnya karena kami lembaga resmi dan bisa dibaca,” kata dia.

Babi berwarna hitam yang ditangkap warga Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, itu akhirnya disembelih oleh warga setempat lantaran khawatir menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.

Oleh pengurus lingkungan, kemudian disepakati jika babi itu dikubur tak jauh dari lokasi kejadian.

Tak hanya itu, karena dipercaya berbau aliran ilmu hitam, maka babi tersebut tidak dikubur secara utuh, melainkan ditempatkan pada dua buah kotak berbeda pada satu lubang yang sama.