MUI: Salat Idul Adha di Rumah Tak Kurangi Keutamaan

·Bacaan 2 menit

VIVA – Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung, Maftuh Kholil mengimbau umat muslim tidak gundah dalam melaksanakan Salat Idul Adha di rumah pada masa Pemberlakuan Pembatasan Sosial Masyarakat (PPKM) Darurat dalam mempercepat upaya memutus mata rantai penularan COVID-19.

Maftuh memastikan, pelaksanaan salat Ied di rumah tetap tidak mengurangi keutamaannya dan masih afdal dengan tetap mengikuti ketentuan tersebut. Maftuh berharap umat muslim tetap bisa menjalankan ibadah sekalipun musala tengah dibatasi penggunaannya. Sebab, pelaksanaan Idul Adha tetap bisa berlangsung tanpa memandang tempat.

“Dari lima rukun Islam yang disyaratkan atau ditentukan tempatnya hanya ibadah haji, yaitu harus ke Makkah. Yang lainnya kita harus selalu beribadah di manapun dan tidak ditentutan di satu titik,” ujar Maftuh, Jumat 16 Juli 2021.

Menurutnya, salat Idul Adha masuk dalam kategori salat sunah. “Hanya saja salat Idul Adha dianjurkan, dan dilaksanakan satu tahun sekali. Barangkali ini yang menjadi keberatan umat muslim tidak bisa dilaksanakan secara berjemaah,” katanya.

Maftuh menegaskan, salat Idul Adha ini sunah dan sifatnya dianjurkan untuk berjamaah, bukan diwajibkan. Sebagai gambarannya, Maftuh menyebutkan untuk salat wajib bisa dan diperbolehkan dilaksanakan masing-masing. Apalagi untuk salat sunah dan masih tetap bisa dilaksanakan berjemaah dengan keluarga di rumah.

“Padahal nilainya juga tidak berbeda dengan sunah lainnya. Untuk berjamaah ini untuk salat fardu lima waktu boleh dilakukan munfarid, apalagi untuk salat Idul Adha. Silahkan dilaksanakan di rumah masing-masing, hanya diupayakan pakai khotbah,” katanya.

“Berjemaah itu tidak dianjurkan di masjid atau lapangan terbuka. Berjemaah itu adalah cukup dilaksanakan dengan dua orang. Satu orang imam dan satu orang makmum,” tambahnya.

Tata cara pelaksanaan salatnya pun Maftuh mengatakan, tidak memberatkan. Seperti ketika ‘takbiratul ihram’ yang bisa saja dilakukan satu kali apabila tidak mampu atau tidak paham. “Takbir yang 7 dan 5 ini bukan rukun, maka seperti biasa salat sunah kobla dzuhur 2 rakaat. Kemudian dilanjut dengan khutbah. Dianjurkan tema khutbah disesuaikan dengan nasehat keluarga sesuai kebutuhan,” terangnya.

Begitupun saat melewatkan malam takbiran, Maftuh menilai hal itu tetap bisa dilakukan tanpa harus berkerumun. Apabila tidak ingin memutar lewat rekaman, maka bisa dilantunkan oleh salah seorang dari masjid dan diikuti warga lainnya dari rumah masing-masing. “Jadi takbiran di masjid itu syiar. Tetap saja mau sendiri atau bersama-sama tetap dalam cara yang afdal,” ungkapnya.

Sedangkan perihal waktu penyembelihan, Maftuh juga mengimbau agar umat muslim memanfaatkan waktu tasyrik yaitu pada 21, 22 dan 23 Juli 2021. Mengingat pada 20 Juli 2021 atau 10 Zulhijah 1442 Hijriah masih dalam masa PPKM Darurat.

Baca juga: 327 WNI di Arab Saudi Menunaikan Ibadah Haji 2021

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel