Munas Kadin VIII Sebaiknya Tetap di Bali, Begini Alasan Pengusaha

·Bacaan 2 menit

VIVA – Pengusaha di sektor logistik dan transportasi masih menyayangkan kebijakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang menunda penyelenggaraan musyawarah nasional ke-VIII Kadin di Bali.

Sebagai informasi, munas Kadin tersebut direncanakan akan digelar di Bali pada 2-4 Juni 2021 dan dihadiri langsung oleh Presiden Joko Widodo. Namun, jelang hari pelaksanaan tiba-tiba lokasi dan tanggal dibatalkan.

"Kami perusahaan logistik yang terdaftar anggota KADIN tentu ingin kejelasan puncak pimpinan kami di pusat," kata Direktur Utama PT Lemok Global Transindo D. Soeratman Y.B. Ginting kepada VIVA, Jumat, 11 Juni 2021.

Ginting menyatakan, jika penyelenggaraan itu cepat dilaksanakan dan sesuai agenda yang telah ditentukan, pada dasarnya dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dalam negeri, khususnya arus barang dan jasa.

Sebab, dia menekankan, penyelenggaraan agenda sebesar munas organisasi besar tersebut tentu akan mendorong pergerakan manusia dan barang dari berbagai tempat sehingga mendorong pergerakan banyak sektor ekonomi.

"Tentu bisa bantu menyeimbangkan perekonomian, sudah tentu pergerakan barang antar pulau dan antar negara berjalan dan berdampak ke kami pelaku usaha kargo atau logistik," tegas dia.

Apalagi, dia menambahkan, lokasi yang akan dijadikan tempat munas mulanya adalah Bali yang notabene nya merupakan wilayah sentral. Di sisi lain, pulau dewata tersebut juga telah banyak pengalaman menggelar acara besar.

"Tentu dengan harapan munas tetap dilaksanakan di Bali. Menurut kacamata saya dan dengan tidak ada rasa mengurangi hormat saya sama saudara-saudara kita di Kendari," ungkapnya.

Lokasi munas di Bali pada dasarnya juga disambut baik oleh banyak pejabat negara. Alasannya, Bali selama ini ekonominya paling tertekan Pandemi COVID-19 karena hanya menggantungkan diri pada sektor pariwisata.

Di tengah membaiknya pertumbuhan ekonomi berbagai wilayah di Indonesia, pada kuartal I-2021 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Bali terkontraksi sedalam minus 9,85 persen secara tahunan.

Oleh sebab itu, Ginting memandang pulau yang telah banyak dikenal oleh orang dari berbagai mancanegara ini perlu kembali digerakkan ekonominya, apalagi selalu dianggap menyumbang devisa pariwisata terbesar untuk RI.

"Bahwa munas sekelas kadin dan didatangi oleh ribuan pengusaha nasional dan daerah seluruh provinsi, Kendari belum representatif adakan munas," ungkap Ginting.