Mungkinkah Hepatitis Akut Jadi Pandemi?

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah mencatat ada 15 kasus suspek Hepatitis akut di Indonesia. Kasus ini masih dalam proses investigasi untuk mengetahui penyebabnya.

Di tengah meluasnya penyakit Hepatitis akut, masyarakat mulai khawatir potensinya menjadi pandemi. Menjawab kekhawatiran tersebut, para pakar mengungkap hasil analisis sementara.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan peluang penyakit menjadi pandemi umumnya melalui proses Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Setelah itu, melihat perkembangan penyakit.

"Kalau terus meluas maka baru akan disebut pandemi," kata Tjandra kepada merdeka.com, Selasa (10/5).

Jika melihat pengalaman pandemi Covid-19, proses dari penemuan kasus sampai penetapan status pandemi membutuhkan waktu berbulan-bulan. Badan Kesehatan Dunia atau WHO melaporkan Covid-19 pada 5 Januari 2020. Dinyatakan PHEIC pada 31 Januari 2020, kemudian ditetapkan sebagai pandemi pada 11 Maret 2020.

Kecil Kemungkinan Hepatitis Akut Jadi Pandemi

Sementara Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman berpendapat sangat kecil kemungkinan Hepatitis akut menjadi pandemi. Sebab, ada sejumlah syarat pandemi yang tidak bisa dipenuhi Hepatitis akut.

Dia menyebut, ada beberapa syarat agar penyakit bisa berstatus pandemi. Pertama, penularannya terjadi bukan hanya lintas negara, tapi juga lintas benua. Kedua, penyakit tersebut menginfeksi semua kelompok umur tanpa pandang bulu.

"Kalau dalam konteks Hepatitis ini, umumnya dan mayoritas mendekati 100 persen anak di bawah 5 atau 6 tahun. Bahkan umumnya di bawah lingkup 15 tahun. Sehingga kriteria itu menjadi tidak terpenuhi atau sulit terpenuhi," jelasnya.

Menurut Dicky, sebagian besar kelompok masyarakat di dunia saat ini cenderung memiliki kekebalan terhadap Hepatitis akut. Selain itu, dunia juga sudah memiliki mekanisme lain untuk mencegah penularan penyakit baru itu.

"Nah itu yang mematahkan atau mengurangi potensi ini untuk menjadi pandemi," ucapnya.

15 Kasus Hepatitis Akut di Indonesia

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan ada 15 kasus suspek hepatitis akut di Indonesia yang sedang dilakukan proses investigasi. Tiga suspek hepatitis akut di Indonesia di laporkan empat hari usai pengumuman Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada 23 April 2022.

"Sampai sekarang di Indonesia ada 15 kasus (suspek). Di dunia paling besar di Inggris 115 kasus, Italia, Spanyol dan Amerika Serikat," kata Budi Gunadi Sadikin saat menyampaikan keterangan pers secara virtual yang diikuti dari YouTube Sekretariat Presiden di Jakarta dilansir Antara, Senin (9/5) sore.

Pada 27 April 2022, kata Budi, Indonesia menindaklanjuti pernyataan KLB tersebut dengan membuat surat edaran agar semua rumah sakit dan dinas kesehatan di setiap daerah melakukan survailens kasus tersebut.

"30 April Singapura umumkan kasus yang pertama dan sampai sekarang di Indonesia ada 15 kasus," katanya.

Baru-baru ini, Budi telah berkoordinasi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control/CDC) Amerika Serikat dan Inggris terkait situasi itu. Disimpulkan, belum bisa dipastikan virus apa yang 100 persen sebabkan hepatitis akut pada anak di bawah usia 16 tahun.

"Sekarang penelitian sedang dilakukan bersama oleh Indonesia dan WHO serta Amerika dan Inggris untuk deteksi cepat," katanya.

Budi mengatakan kemungkinan virus yang diduga berkaitan dengan hepatitis akut adalah Adenovirus strain 41.

"Tapi ada juga banyak kasus yang tidak ada kasus Adenovirus strain 41 ini," kata Budi. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel