Mural Bergambar Jokowi di Tembok Warga Solo, Pegang Wayang Presiden Rusia dan Ukraina

Merdeka.com - Merdeka.com - Sebuah mural berukuran cukup besar bergambar Presiden Joko Widodo alias Jokowi terpampang di tembok warga, Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di sekitar perempatan Nonongan. Dengan pakaian unik, Jokowi terlihat sedang duduk bersila layaknya seorang dalang.

Mantan Wali Kota Solo itu mengenakan baju lurik warna coklat hitam dan jarik. Jokowi juga mengenakan rompi antipeluru berwarna hitam serta helm layaknya seorang prajurit.

Dengan duduk bersila, Jokowi mampak memegang dua buah wayang bergambar Presiden Rusia, Vladimir Putin di tangah kiri dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy di tangan kanan.

Sementara latar belakang mural menggambarkan suasana peperangan antara Rusia dengan Ukraina. Pada mural tersebut, ada juga gambar ibu negara Iriana Jokowi yang mengenakan pakaian warna biru dan jilbab putih. Iriana sedang memeluk seorang anak korban perang sambil menangis. Pada sudut atas kiri, tertulis 'Ruwatan. Stop World War III'.

Mural tersebut dibuat dan diinisiasi oleh penari, koreografer sekaligus sutradara film asal Solo Sardono W. Kusumo. Menurutnya, pembuatan mural sudah dimulai sejak sebulan lalu.

"Proses pembuatannya sudah sekitar satu bulan lalu. Ini masih penyelesaian," ujar Sardono.

Sardono mengemukakan, tema mural dengan suasana peperangan antara Rusia dengan Ukraina bukan tanpa alasan. Apalagi belum lama ini Jokowi dan Iriana berkunjung ke dua negara yang sedang berkonflik tersebut. Ia menilai kedatangan Jokowi dan Iriana ke kedua negara sangat berani.

"Itu yang menjadi inspirasi saya membuat mural Presiden Jokowi, jadi tidak asal buat. Itu sikap yang sangat berani untuk maju menghentikan peperangan," katanya.

Menurut pria kelahiran 6 Maret 1945 itu, ada makna dari pembuatan mural bergambar Jokowi dengan latar belakang peperangan.

"Untuk maknanya agar peperangan antara Rusia dengan Ukraina bisa segera berakhir. Karena dampak dari peperangan tersebut banyak jatuh korban dan membuat negara-negara terbelah menjadi dua kubu," lanjutnya.

Dia menambahkan, mural tersebut dibuat menggunakan pendekatan kebudayaan. Dalam waktu dekat ini akan berlangsung KTT G20 di Bali. Acara tersebut diharapkan mampu mengakhiri perang yang terjadi saat ini.

"G20 memang soal ekonomi, situasinya dunia dalam konflik peperangan. Jadi negara-negara di dunia terbelah. Dampak perang pasti akan merusak lingkungan, terlebih penggunaan senjata yang daya ledaknya besar, nuklir, maupun senjata biologis," jelasnya.

Sebelumnya di lokasi yang sama, Sardono mengaku pernah membuat mural bergambar Jokowi yang mengenakan baju adat Badui berwarna hitam. Kemudian ada juga tokoh-tokoh dunia, seperti Joe Biden, Vladimir Putin, Xi Jinping dan Boris Johnson.

Dikatakan Sardono, mural-mural yang dibuat itu memakan waktu pengerjaan sekira dua bulan dengan dibantu beberapa teman, seperti Broto, Soni dan Irul.

"Jadi itu mural berseri, dari dua bulan lalu ada mural Pak Jokowi pakai baju suku Badui dengan tema G20 Go Green. Kemudian saya lanjutkan dengan mural ini. Ada bu iriana didekap perempuan Ukraina," terangnya.

Selain itu, lsnjut dia, ada pesan yang ingin disampaikannya dalam pembuatan mural-mural tersebut. Yakni menghentikan aksi vandalisme yang sering terjadi di Solo. Selain di Jalan Slamet Riyadi sejumlah mural lainnya juga dibuat di Jalan Gatot Subroto. [cob]