Musik Pop Sunda Bertahan Lewat Iklan

TEMPO.CO , BANDUNG:-Walau tergerus pembajakan, album dan lagu-lagu pop Sunda berusaha bertahan. Caranya lewat iklan promosi di televisi dan penjualan paket album. Sebagian penyanyi mengandalkan pentas di pelosok daerah.

Pesatnya kemajuan teknologi dan pembajakan sekarang ini terus merontokkan rantai distribusi penjualan album lagu. Sebuah agen distributor album lagu terbesar di Bandung, CV Tropic, akan tutup usaha pada akhir tahun ini. "Bisnisnya sudah sepi, dirusak sama bajakan juga," kata pemilik CV Tropic, Jenny Liediawati di kantornya, Kamis, 28 Juni 2012.

Perusahaan yang berdiri sejak 1973 itu lebih banyak menjual album-album musik Sunda, dari jenis klasik seperti lagu tradisional Cianjuran sampai pop. "Zaman kaset paling bagus pada 1980-an seperti album Jugala, Kalangkang, dan Sabilulungan," ujar perempuan berusia 58 tahun itu.

Menurunnya angka penjualan album itu mulai terjadi sejak 1998. Makin parah, kata dia, selama 5 tahun terakhir. Karyawannya yang berjumlah 40 orang kini tinggal 10 pegawai karena omzet terus merosot. 

Produser lagu Sunda, Dose Hudaya, mengaku khawatir jika agen distributor album lagu Sunda terus tutup, apalagi yang terbesar seperti CV Tropic. "Bagaimana bisnis musik Sunda berkembang kalau mereka tutup," ujarnya. Lewat perusahaannya DH Production, ia membuat terobosan penjualan paket 8 album lagu Sunda sekaligus seharga Rp 75 ribu dan beriklan video klip lagu Sunda di televisi lokal.

Penjualan album Bentang-Bentang jilid 1 dan 2 misalnya, selama 3 tahun terakhir berjumlah 100 ribu keping VCD. Walau begitu, album tersebut juga dibajak. Selain mengandalkan kebijakan pemerintah untuk memberantas pembajakan lagu, Dose yang juga pembuat lagu dan pengacara itu berharap masyarakat mematikan pembajakan. "Caranya dengan hanya membeli album lagu asli," ujarnya.

Sementara itu, dosen dan peneliti lagu pop Sunda dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, Indra Ridwan mengatakan, lagu pop Sunda sudah terkenal di sejumlah negara seperti Belanda, Jerman, dan Jepang sejak 1936 hingga 1980-an. Kepopulerannya kini terancam oleh masyarakat sendiri yang lebih menyukai album lagu bajakan karena harganya lebih murah. 

Sejauh ini, kata penyanyi pop Sunda Nining Maida, belum ada jalan keluar yang menyelematkan nasib penyanyi, musisi, dan produser. Nining yang masih menghasilkan lagu-lagu pop Sunda baru dan memproduksinya sendiri, masih menelan kekecewaan. "Begitu dikeluarkan langsung dibajak, saya nggak tahu harus bagaimana ke depan," ujarnya.

ANWAR SISWADI

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.