Musim Bakar Hutan Lahan di Bumi Sriwijaya Terus Terulang

Merdeka.com - Merdeka.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman bagi Provinsi Sumatera Selatan setiap musim kemarau. Setelah korporasi dan masyarakat membuka kebun, kini pembukaan kawasan perumahan menjadi faktor munculnya karhutla.

Sepanjang Januari-Mei 2022, karhutla di Bumi Sriwijaya tercatat mencapai 472,07 hektare. Sebaran lahan terbakar berada di Ogan Komering Ilir seluas 90 hektare, Musi Rawas Utara dan Ogan Komering Ulu (masing-masing 83 hektare), dan Musi Banyuasin (68 hektare).

Kemudian disusul Ogan Ilir (53 hektare), Penukal Abab Lematang Ilir (43 hektare), Muara Enim (30 hektare), Musi Rawas (10 hektare), serta Lahat dan OKU Selatan masing-masing seluas 5 hektare.

Luasan karhutla di awal tahun ini meningkat dari periode yang sama pada tahun lalu seluas 100,90 hektare. Artinya terjadi kenaikan drastis hingga mencapai empat kali lipat.

Sementara sepanjang 2020, tercatat 626 hektare lahan terbakar. Dibanding tahun itu, karhutla di tahun ini lebih rendah. Namun, tidak menutup kemungkinan bisa lebih besar karena baru saja memasuki puncak musim kemarau hingga September nanti.

Jika dibanding tahun 2019, karhutla di tiga tahun terakhir terbilang tidak apa-apanya. Di tahun itu, karhutla di Sumsel tercatat 967,25 hektare. Luasnya areal yang terbakar menimbulkan kabut asap pekat sepanjang hari dalam kurun waktu hampir selama tiga bulan.

Aktivitas masyarakat, transportasi laut, darat, dan penerbangan terganggu karena jarak pandang berkurang. Belum lagi dampak kesehatan masyarakat yang dikeluhkan selama tahun itu.

Areal karhutla yang terbilang 'minim' pada 2020, 2021, dan 2022, cenderung akibat pengaruh cuaca. Selama tiga tahun berturut-turut, musim kemarau disebut basah sehingga masih terjadi hujan di saat kemarau.

Ada juga faktor lain, semisal kesigapan satgas karhutla yang dibentuk pemerintah setempat dalam menangani dan mengendalikan titik api. Belum lagi pemadaman melalui udara atau water boombing di lokasi sudah terjangkau.

Ancaman karhutla terus terjadi lantaran 300 desa di sembilan kabupaten di provinsi itu ditetapkan rawan karhutla. Dari jumlah itu, 100 desa di antaranya mendapat perhatian serius karena mayoritas memiliki lahan gambut. Semuanya berada di empat kabupaten, yakni di Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin.

Bahkan, Dinas Kehutanan setempat menyebut 67 persen dari 97 ribu kilometer persegi luasan wilayah Sumsel masuk dalam kategori tingkat tinggi rawan karhutla. Banyaknya areal gambut yang mencapai 1 juta hektare diklaim menjadi penyebab utamanya.

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengungkapkan, karhutla akibat disengaja yang bertujuan pembukaan lahan dan kebun. Ironisnya, banyak lahan yang terbakar untuk membuka lahan pembangunan perumahan.

"Ada pergeseran tujuan, sekarang ditemukan lahan sengaja dibakar untuk proyek perumahan," kata Ferdian belum lama ini.

Dia memperkirakan karhutla akan semakin luas selama tiga bulan ke depan seiring memasuki puncak musim kemarau. Hal ini perlu disikapi agar bisa diminimalisir terjadinya kabut asap.

"Terus sosialisasi dan tentunya pembasahan lahan mesti dilakukan," kata dia.

Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori menjelaskan, empat daerah, yakni Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Penukal Abab Lematang Ilir, telah ditetapkan berstatus siaga darurat karhutla 2022. Sementara 8 daerah lain yang juga langganan terjadi karhutla masih menunggu penetapan status.

Dengan adanya status tersebut, dibentuk juga satuan tugas mulai dari tingkat provinsi hingga desa, terlebih desa menjadi langganan karhutla. Upaya lain juga tengah dilakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) guna membasahi lahan gambut dan bantuan helikopter dari pusat untuk patroli dan pemadaman udara.

Menurut dia, penanganan dini perlu dilakukan agar pemetaan lokasi mudah terbakar dan api tidak semakin meluas. Hal ini belajar dari karhutla hebat pada 2015 dan 2019.

"Sekecil apapun adanya api bisa segera ditanggulangi, jangan sampai keburu meluas baru dipadamkan," ujarnya.

Dia mengakui kebakaran lahan ditimbulkan akibat ulah manusia dengan tujuan pembukaan lahan. Dia berharap kebiasan itu segera dihentikan karena berdampak negatif bagi lingkungan dan kualitas udara di provinsi itu.

"Masyarakat bisa menyudahi kebiasaan itu, perusahaan jaga lahannya, jangan lalai," kata dia.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Desindra Deddy Kurniawan mengatakan, musim kemarau di Sumsel mulai terjadi pada dasarian dua Juni 2022. Sedangkan puncak kemarau terpadi pada Juli-September 2022 dengan intensitas hujan di bawah 50 mm.

"Kewaspadaan perlu ditekankan agar karhutla bisa dicegah, tidak meluas dan semakin sulit ditanggulangi," ujarnya. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel