Musim Hujan Rasa Kemarau di Yogyakarta, Pertanda Apa?

Liputan6.com, Yogyakarta - Januari selalu identik dengan musim hujan, demikian pula prediksi cuaca di Yogyakarta. Namun, gangguan atau anomali cuaca yang muncul tiba-tiba membuyarkan perkiraan itu.

Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta mencatat pengamatan cuaca pada 17 Januari 2020. Pantauan citra satelit Himawari menunjukkan hasil tidak ada awan hitam sama sekali di langit. Yogyakarta yang seharusnya sudah masuk musim penghujan, mendadak berubah seperti musim kemarau.

Tidak ada rintik hujan, angin yang berembus terasa kering dan hangat. Pada waktu pencatatan, kelembaban udara di Yogyakarta 53 persen dengan suhu maksimum 32 derajat Celcius.

"Ini didukung dari pola angin yang menunjukkan embusan Angin Timuran (Monsun Australia) bersifat kering mencapai Jawa bahkan Sulawesi, ini yang membuat cuaca cerah dan panas," ujar Reni Kraningtyas, Kepala Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta, Jumat (17/1/2020).

Ia mengakui fenomena ini termasuk anomali cuaca karena seharusnya saat ini masih masuk musim penghujan. Kondisi jeda hujan atau Monsun break berpotensi terjadi di musim hujan, tetapi frekuensi kejadiannya sangat jarang.

"Sedangkan untuk kondisi saat ini, intrusi massa udara dari Australia yang bersifat kering dan masuk ke Jawa hingga mencapai Sulawesi, baru kali ini terjadi," ucap Reni.

Kondisi ini diperkirakan berlangsung selama lima sampai tujuh hari. Sementara, terkait kondisi cuaca di Yogyakarta pasca-anomali ini, Stasiun Klimatologi Mlati akan memperbarui informasinya kembali.

Reni juga mengimbau kepada masyarakat untuk memperhatikan kesehatan. Sebab, perubahan cuaca yang signifikan seperti saat ini dapat menurunkan kondisi kekebalan tubuh.

Ia berharap masyarakat bisa menjaga stamina dan mengonsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi.

"Untuk bidang pertanian, pada kondisi musim hujan seperti kemarau ini, agar petani lebih banyak berkoordinasi dengan dinas pertanian, terkait masa tanam dan perairan," kata Reni.